RSS

Tag Archives: keluarga

47. Nice Homework #9

Ini merupakan NHW terakhir dari materi matrikulasi IIP. Perasaannya campur-aduk dalam menyelesaikan NHW ini. Ada rasa haru karena tak terasa sudah berada di akhir sesi matrikulasi. Di sisi lain saya juga sedang dikejar deadline tulisan artikel dan cerpen anak dari 2 training menulis yang saya ikuti. Kemudian ditambah dengan kegiatan berjualan makanan setiap hari jum’at. Jadilah seminggu yang full, hehe.

NHW kali ini mengaitkan skill/passion seorang ibu terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga muncul rumus EMPATI + PASSION = SOCIAL VENTURE.

Awalnya agak bingung bagaimana mengaitkan passion yang saya miliki dengan permasalahan di lingkungan sekitar. Untuk sementara ini (tinggal di Canberra), permasalahan terkait makanan adalah kehalalan makanan. Sejauh ini masalah tersebut dapat di atasi dengan cara selalu mengecek ingredients bahan makanan yang dibeli. Justru yang memiliki banyak masalah sosial adalah ketika tinggal di Jakarta. Mulai dari halal/tidaknya suatu makanan, kehigienisan dan nutrisi makanan, serta masalah kelaparan dan kurang gizi. Syukurlah ada bagan acuan sehingga pengerjaan NHW ini tidak melebar kemana-mana.

Minat/Hobi/

Ketertarikan

Skill Isu Sosial Masyarakat

Ide Sosial

Memasak Memasak

Berjualan

Permasalahan makanan yang belum terjamin halal & gizinya di lingkungan sekolah

 

Anak usia sekolah (utamanya TK & SD)

 

Gerakan membawa bekal makan untuk anak sekolah

Tabel di atas saya buat dengan mengacu pada permasalahan yang ada di Jakarta, karena InsyaAlloh tahun depan saya dan keluarga akan kembali ke Jakarta.

Bismillah.

Semoga saya dan man-teman semua senantiasa bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

46. Nice Homework #8

NHW ini merupakan tugas yang paling telat saya kumpulkan, berbarengan dengan menyetor NHW #9. Walaupun telat tetap harus ditunaikan.

A, Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW #7)

Saya memilih memasak (cooking & baking) sebagai aktivitas yang paling saya suka. Walaupun dari kegiatan memasak ini ada konsekuensinya, yakni ada aktivitas cuci-mencuci perabot sehabis masak yang tidak saya suka, hehe.

B.Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE-DO-HAVE” di bawah ini:

Kita ingin menjadi apa? (BE)

Ahli di bidang masakan.

Kita ingin melakukan apa? (DO)

Mencoba aneka resep masakan, serta mengikuti beragam kursus masakan dan kue. Selanjutnya mulai memasarkan hasil masakan yang saya buat untuk komersil.

Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Mempunyai restoran atau toko kue yang terjamin kehalalannya.

C. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Saya ingin senantiasa memasak makanan untuk keluarga sehingga makanan yang dikonsumsi terjamin kesehatan dan kehalalannya. Selain itu saya juga ingin memiliki restoran atau toko kue yang berlabel halal MUI.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan (strategic plan)

Merintis usaha kuliner, dimulai dari warung skala kecil hingga nantinya berskala resto.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Dalam kurun waktu 1 tahun ini saya akan mulai memperkenalnya Dapur Bunda-Buya. Dimulai dengan berjualan makanan ala Minang di kalangan mahasiswa tiap pekan.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu; BERUBAH atau KALAH. – Institut Ibu Profesional

 

Tags: , , , , ,

43. Nice Homework #6

Setelah libur lebaran sekitar 2 minggu, kelas matrikulasi kembali dimulai. Ada NHW lagi, hoho. Minggu ini tugasnya adalah “Belajar Menjadi Manager Keluarga yang Handal”.

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

Selama di Canberra, aktivitas yang penting bagi saya antara lain ibadah, masak-memasak, menulis, menyuapi anak dan bermain bersamanya, membereskan rumah, serta mengikuti kajian setiap minggu. Clue-nya adalah pilih aktivitas penting yang juga menunjang bertambahnya jam terbang peran hidup saya. Oleh karena itu saya memilih 3 aktivitas, yakni:

  1. Ibadah; sholat dan membaca qur’an, selain itu mendengarkan kajian para ustadz di youtube sambil membereskan rumah.
  2. Memasak; sebagai wahana meng-explore aneka resep masakan yang baru.
  3. Menulis.

Lalu 3 aktivitas yang tidak penting, yaitu:

  1. Membuka Facebook; ini nih pencuri waktu nomer satu.
  2. Menonton film; tapi ini biasanya saya sambi dengan menyetrika ataupun masak.
  3. Membereskan mainan.

Waktu saya banyak dihabiskan untuk memasak, menyuapi anak dan bermain dengannya. Saya iri dengan para ibu yang bisa memasak dengan waktu yang singkat. Apalagi kalau lihat video memasak di youtube, cuma sepuluh menit makanan sudah matang. Lha koq saya bisa berjam-jam di dapur ya, mulai dari persiapan bumbu dan bahan-bahannya, proses memasaknya, serta cuci piring dan panci. Untuk menyenangkan hati, saya anggap ini sebagai ajang belajar menemukan resep yang pas dengan rasa maknyus. Kalau rasanya sudah oke, kan bisa untuk dijual. Teteup dong ya niat bisnis kulinernya, hehehe.

InsyaAlloh semoga bisa konsisten ya dalam meningkatkan kualitas aktivitas-aktivitas penting dalam hidup.

 

Tags: , , , ,

41. Nice Homework #5

Untuk NHW kali ini, peserta matrikulasi diminta untuk membuat desain pembelajaran bagi dirinya masing-masing. Masuk akal, karena kalau si ibu tak punya dasar road map pembelajaran bagi dirinya sendiri, bagaimana ingin mendidik anak-anaknya dengan terarah. Duuh, tiap NHW saya berasa dijewer deh. Anaknya ini (padahal sudah jadi emak) masih suka moody, tidak fokus dan tidak konsisten dengan target yang telah ditetapkan di awal.

Karena di NHW #5 tidak ada clue yang spesifik bagaimana membuat desain pembelajaran, maka saya googling terlebih dahulu apa itu desain pembelajaran dan bagaimana membuatnya. Website ini jadi acuan saya dalam membuat desain pembelajaran.

http://www.mediabelajar.cf/2013/06/model-model-desain-pembelajaran.html

Ada beberapa model yang bisa digunakan, antara lain: model Dick dan Carey, model ASSURE, model Gerlach dan Ely, model ADDIE, model Degeng, model PPSI, model J.E. Kemp, model Instructional System Design (ISD), dan Model Pengembangan Instruksional (MPI).

Dari sekian banyak metode, saya memilih model ADDIE untuk membuat desain pembelajaran. Selain pas di hati, metode ini juga sederhana. Saya tipe yang suka kepraktisan dan jelas alurnya. Kalau metode yang terlalu rumit, nantinya malah keblinger sendiri, hehe. Metode ADDIE merupakan model desain pembelajaran yang menggunakan 5 langkah sederhana, yakni Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.

Tiap orang adalah unik, jadi temukan desain pembelajaran yang sesuai dengan kepribadian dan kondisi dirimu. Berikut desain pembelajaran ala saya yaa.

ANALYSIS

Menganalisis kebutuhan untuk menentukan masalah dan solusi yang tepat dan menentukan kompetensi siswa.

Kebutuhan saya adalah memahami ilmu agama Islam dengan baik dan menjadi wirausaha di bidang kuliner.

DESIGN

Menentukan kompetensi khusus, metode, bahan ajar, dan pembelajaran.

Ilmu agama Islam

Kompetensi khusus:

  • Menguasai cara membaca al-qur’an yang baik dan benar, dari sisi makhraj huruf dan tajwid.
  • Menguasai bahasa Arab
  • Menguasai dasar-dasar ilmiah ilmu agama Islam, seperti fiqh, hadist, sirah nabawiyah, dll.
  • Memiliki kemampuan dalam hal menyampaikan materi keagamaan dengan baik.

Metode belajar:

Secara otodidak (online dan membaca buku) serta mengikuti kajian dan kursus yang terkait.

Bahan ajar:

  • Buku/kitab penunjang
  • Gadget untuk browsing materi secara online

 

Ilmu kuliner

Kompetensi khusus:

  • Menguasai teknik cooking dan baking dengan baik dan benar.
  • Memiliki kemampuan dalam hal manajemen bisnis kuliner.
  • Memiliki kemampuan dalam hal pemasaran produk.

Metode belajar:

Secara otodidak (online, membaca buku, dan praktek resep) serta mengikuti kursus yang terkait.

Bahan ajar:

  • Buku resep masakan & kue
  • Gadget untuk browsing materi secara online
  • Peralatan memasak yang memadai

DEVELOPMENT

Memproduksi program dan bahan ajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

Memproduksi bahan ajar?

Hmm, kalau saya lebih ke memperbanyak referensi semisal buku-buku kali ya.

IMPLEMENTATION

Melaksanakan program pembelajaran dengan menerapkan desain atau spesifikasi program pembelajaran.

Selain kegiatan belajar, di sini saya juga memasukkan kegiatan membuat jadwal belajar yang di-break-down ke bulanan, mingguan, dan harian. Hari ini fokus ke ilmu apa, besok tentang apa, dan seterusnya. Karena ada beberapa jurusan ilmu yang ingin saya tekuni, maka saya harus membagi waktunya. Waktu yang saya gunakan untuk kegiatan implementation ini 1 – 2 jam per hari.

EVALUATION

Melakukan evaluasi program pembelajaran dan evaluasi hasil belajar.

Kegiatan evaluasi akan diadakan setiap 1 bulan sekali, me-review checklist kegiatan serta melibatkan suami sebagai second opinion. Karena jika dilihat dari sudut pandang saya pasti hasilnya oke-oke saja, hehe.

Sekian pembuatan desain pembelajaran ala saya. Semoga saya istiqomah dalam proses belajar menjadi individu, istri, dan ibu yang bahagia, aamiin 🙂

 

Tags: , , , , ,

38. Aliran Rasa NHW #3

Rasa yang saya dapat ketika mengerjakan NHW kali ini berbeda dibanding dua NHW lainnya. Lebih emosional karena ditugaskan membuat surat cinta untuk suami. Cukup lama juga berpikir ingin menulis apa, bahkan hingga mencoba flashback rasa yang dialami ketika pertama kali bertemu dengannya. Saya berterima kasih untuk lagu soundtrack drama Korea yang telah menemani dalam pembuatan surat cinta ini. Musik yang mendayu-dayu tersebut berhasil memunculkan sisi romantisme saya, hehe. Alhasil terbuatlah sebuah puisi. Mohon maaf ya puisi tersebut tidak akan saya share, cukup untuk konsumsi pribadi saja J.

Tak hanya berhenti di pembuatan suratnya saja, tetapi rasa dag-dig-dug juga melanda dalam proses pengirimannya. Awalnya ingin ditulis di secarik kertas. Apa daya tangan kaku untuk menulis akibat suhu yang dingin. Maklum, harus irit listrik tanpa pemakaian heater supaya tagihan listrik tidak membengkak drastis. Watt-nya besar euy, bisa 1000 hingga 2000 watt untuk satu heater saja :(. Setelah membaca puisi yang saya kirim via Whatsapp, respon pertama suami cuma bilang “ini pasti tugas”. Suami lalu melanjutkan “karena tumben-tumbenan bikin begini”. Dan sayapun cuma bisa tertawa. Dia memang paham kalau istrinya lebih prefer memasak makanan request suami ketimbang membuat kata-kata romantis untuk menunjukkan rasa sayang, heuheu.

Selain membuat surat cinta, dengan tugas NHW 3 ini saya diajak untuk memahami hikmah dari setiap kejadian hidup. Karena sesungguhnya setiap skenario kehidupan mengandung hikmah bagi orang-orang yang berpikir. Contohnya adalah dengan keputusan menemani suami yang berkuliah di negeri orang, saya merasakan suka dukanya hidup merantau yang jauh dari keluarga. Harus mandiri, terutama dalam hal masakan. Tak ada rumah makan Padang, warteg, ataupun penjual makanan keliling yang bisa diandalkan. Ingin makan bakso, mie ayam, atau pempek? Ya harus memasaknya sendiri. Hikmahnya skill memasak saya menjadi terasah. Kalau di Jakarta sih cukup order lewat go-food, tidak perlu repot berjam-jam di dapur. Selain itu, dengan merantau akan mempertemukanmu dengan orang-orang baru, menjadikannya sebagai teman bahkan seperti keluarga. Siapa sangka kini saya berteman dengan seorang psikolog yang juga menemani suaminya melanjutkan studi doktoral. Alhamdulillah bisa konsultasi gratis masalah parenting, hehe.

ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 23: “Dia (ALLOH) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya”.  

Semua sudah ditetapkan dalam takdir ALLOH dan sesuai dengan ilmu dan hikmah ALLOH. Kita sebagai manusia sangat tidak layak bertanya-tanya: “mengapa ALLOH takdirkan ini, mengapa ALLOH takdirkan itu”. Karena kita hanya hamba dan kitalah yang akan diminta pertanggung jawaban atas perbuatan kita, sedang ALLOH tidak akan ditanya. – dr. Raehanul Bahraen

 

Berhentilah mengeluh,

buka mata, buka hati,

lihat sekeliling,

lalu bersyukurlah.

 

Tags: , , , ,

37. Nice Homework #3

Memasuki minggu ketiga, dimana materi matrikulasi mengenai Membangun Peradaban Dari Rumah. Dari judulnya saja sudah berat ya. Bukan hanya membangun sebuah keluarga, tetapi peradabanlah yang akan terwujud dari sebuah rumah.

Untuk NHW kali ini, dibuat tiga kelompok, yakni bagi yang belum menikah, menikah, dan single parent. Untuk pertanyaan lengkapnya akan saya kopikan di bawah, tetapi sekarang ini fokus ke si empunya blog dulu ya 😀

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikarunia tim yang utuh sampai hari ini;

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda. Buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki alasan kuat bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Alloh, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal potensi yang anda miliki.
  4. Lihatlah lingkungan dimana anda tinggal saat ini. Tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Alloh, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Poin a, membuat surat cinta. Uhuk. Seumur-umur belum pernah membuat surat cinta. Dulu kala zaman ABG, pernah sih membuat puisi bertema cinta. Namun itu duluu. Aarrghh, tugas yang membuat galau. Dan juga baper, hehe.

Well, akhirnya alih-alih membuat surat, yang terbuat justru sebuah puisi. saya kirim puisinya lewat whatsapp. Ingin menulis dengan tangan, tapi apa daya tangan kaku karena suhu yang dingin. Bagaimana tanggapan sang suami setelah membaca puisi tersebut? Komentar pertamanya: “ini pasti tugas”. Hahaha. Dia memang paham kalau istrinya tidak jago untuk urusan romantis-romantisan. Lalu suami mengirimkan pesan balasan “wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokatuh istriku tersayang” disertai emoticon love-love 🙂

 

Untuk poin b,

Alhamdulillah saya dan suami diberi amanat seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 3 tahun 5 bulan. Muhammad Sayyidan Hashuro Fauzan namanya. Di usianya yang menginjak 3 tahun, ada beberapa potensi diri yang terlihat, yaitu:

  • Kritis dan suka bertanya. Setiap ada sesuatu pasti Hashuro akan bertanya pada bunda atau buyanya, ini apa, itu apa, untuk apa, kalau tidak ini lalu kenapa, dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan lainnya.
  • Aktif. Mungkin setiap anak laki-laki aktif ya, seperti tidak pernah kehabisan energi.
  • Perhatian. Contoh dari sifat perhatiannya adalah ketika buya akan berangkat ke kampus, Hashuro mengingatkan apakah buya sudah membawa kacamata. Dan ternyata memang belum terbawa. Pernah juga ketika saya dipijit oleh suami dan terlihat kesakitan, Hashuro bilang “Buya, pijitnya jangan kenceng-kenceng”. Mendengar perkataannya membuat hati meleleh.
  • Daya ingat yang kuat. Hashuro masih mengingat berbagai peristiwa yang terjadi ketika kami tinggal di Jakarta, meskipun hal tersebut sudah berselang 1,5 tahunan.

 

Lanjut ke poin c ya.

Manusia merupakan makhluk yang unik. Meskipun kepribadian manusia digolongkan menjadi koleris, plegmatis, melankolis, dan sanguinis, tetapi sejatinya tiap orang memiliki setiap unsur tersebut. Ketika mencoba untuk mengetes cenderung bertipe kepribadian apakah saya, saya menemukan bahwa tidak ada unsur yang sangat dominan. Bisa dibilang hampir seimbang. Kalau hampir seimbang berarti ada kecenderungan dong? Yup, hasilnya saya cenderung bertipe melankolis.

Beberapa potensi diri saya:

  • Handal dalam memasak. Sebenarnya handal yang saya maksud belum setingkat dengan para chef, hehe. Hanya saja saya senang memasak dan mencoba aneka resep baru. Selain itu masakan yang saya buat rasanya enak (baca: enak versi suami :D). Jadi, bolehlah yaa hal ini dimasukkan sebagai potensi diri J Dengan kegemaran memasak ini saya pun mencoba berjualan makanan Indonesia selama di Canberra.
  • Analitis. Saya terbiasa untuk menganalisis sesuatu dan berpikir dengan beberapa sudut pandang.  Mungkin ini ada kaitannya karena saya mengambil jurusan statistik semasa kuliah.
  • Perfeksionis. Entahlah, apakah ini bisa dianggap sebagai potensi yang positif atau justru negatif. Karena kadang sifat ke-perfeksionis-an saya membuat suatu pekerjaan menjadi lebih sulit dan tidak praktis.
  • Teratur. Saya menyukai hal-hal yang teratur, mulai dari peletakan buku, pakaian, aneka bumbu di dapur, dan perabot rumah, hingga ke pekerjaan kantor.
  • Independen. Hal ini berhubungan dengan sifat perfeksionis saya, dimana jika mengandalkan orang kadang hasilnya tidak sesuai dengan kemauan saya.

 

Terakhir, poin d.

Saat ini saya tinggal di Canberra, menemani suami yang sedang melanjutkan studinya. Masa-masa awal kedatangan di Australia, setahun yang lalu, merupakan masa yang sulit bagi saya. Selain harus beradaptasi dengan suhu minus di kala winter, aktivitas harianpun juga ikut berubah. Selama 8 tahun saya bekerja di kantor, tetapi kemudian tiba-tiba harus stay at home 24 jam sehari dengan hanya mengurus anak dan urusan rumah tangga lainnya. Ini sungguhlah sulit. Tak ada teman mengobrol (karena suami sudah sibuk kuliah dan kerja part-time) menjadikan masa awal kedatangan saya semakin sulit.

Meskipun telat menyadarinya, ternyata banyak hikmah yang saya peroleh dengan keputusan CLTN (Cuti Luar Tanggungan Negara) ini. Beberapa hikmah yang saya dapat antara lain saya menjadi lebih dekat dengan anak. Seharian berinteraksi dengan anak membuat saya lebih memahaminya dan melihat langsung tumbuh kembangnya. Hikmah lainnya adalah saya bertemu dengan komunitas baru, seperti halaqoh dan darma wanita. Kapan lagi bisa menjadi ibu-ibu darma wanita (DW)? Ketika saya kerja kan tidak sempat menghadiri acara DW yang diadakan kantor suami.

Menetap di negeri orang tentu mempunyai tantangan tersendiri. Selain menjadi minoritas (karena muslim), perbedaan makanan, bahasa, dan budaya juga menjadi tantangan. Namun di balik tantangan tersebut tersimpan hikmah yang akan diperoleh jika kita mau merenung. Dengan waktu luang yang dimiliki saya bisa mengikuti beragam kursus online, salah satunya adalah Institut Ibu Profesional.

Tahun depan InsyaAlloh saya bersama suami dan anak akan kembali ke tanah air. Pun di sana sudah menanti berbagai tantangan, terutama tantangan dalam membesarkan anak. Kita ketahui bersama dari berita di media, masalah yang terjadi seperti kejahatan terhadap anak, sistem pendidikan di sekolah, ketidaknyamanan angkutan publik, ketidakteraturan dalam berkendara, dan lain sebagainya. Semoga saya dan suami mampu menghadapi tantangan-tantangan tersebut dan bisa mengambil hikmahnya.

 

Tags: , ,

34. Indikator Ibu Profesional

Memasuki minggu kedua di kelas matrikulasi Institut ibu Profesional, materi yang diberikan terkait bagaimana menjadi ibu yang profesional. Yuk, kita baca materi yang saya copas-kan.

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #4? Pekan ini kita akan belajar bersama:
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna:

  1. Perempuan yang telah melahirkan seseorang;
  2. Sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
  3. Panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
  4. Bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
  5. Yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna:

  1. Bersangkutan dengan profesi;
  2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;
    Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang:
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu:
1. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

2. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

3. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

4. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut:

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

 

Tags: , , , ,