RSS

Tag Archives: ibu

47. Nice Homework #9

Ini merupakan NHW terakhir dari materi matrikulasi IIP. Perasaannya campur-aduk dalam menyelesaikan NHW ini. Ada rasa haru karena tak terasa sudah berada di akhir sesi matrikulasi. Di sisi lain saya juga sedang dikejar deadline tulisan artikel dan cerpen anak dari 2 training menulis yang saya ikuti. Kemudian ditambah dengan kegiatan berjualan makanan setiap hari jum’at. Jadilah seminggu yang full, hehe.

NHW kali ini mengaitkan skill/passion seorang ibu terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga muncul rumus EMPATI + PASSION = SOCIAL VENTURE.

Awalnya agak bingung bagaimana mengaitkan passion yang saya miliki dengan permasalahan di lingkungan sekitar. Untuk sementara ini (tinggal di Canberra), permasalahan terkait makanan adalah kehalalan makanan. Sejauh ini masalah tersebut dapat di atasi dengan cara selalu mengecek ingredients bahan makanan yang dibeli. Justru yang memiliki banyak masalah sosial adalah ketika tinggal di Jakarta. Mulai dari halal/tidaknya suatu makanan, kehigienisan dan nutrisi makanan, serta masalah kelaparan dan kurang gizi. Syukurlah ada bagan acuan sehingga pengerjaan NHW ini tidak melebar kemana-mana.

Minat/Hobi/

Ketertarikan

Skill Isu Sosial Masyarakat

Ide Sosial

Memasak Memasak

Berjualan

Permasalahan makanan yang belum terjamin halal & gizinya di lingkungan sekolah

 

Anak usia sekolah (utamanya TK & SD)

 

Gerakan membawa bekal makan untuk anak sekolah

Tabel di atas saya buat dengan mengacu pada permasalahan yang ada di Jakarta, karena InsyaAlloh tahun depan saya dan keluarga akan kembali ke Jakarta.

Bismillah.

Semoga saya dan man-teman semua senantiasa bermanfaat untuk lingkungan sekitar.

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

46. Nice Homework #8

NHW ini merupakan tugas yang paling telat saya kumpulkan, berbarengan dengan menyetor NHW #9. Walaupun telat tetap harus ditunaikan.

A, Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW #7)

Saya memilih memasak (cooking & baking) sebagai aktivitas yang paling saya suka. Walaupun dari kegiatan memasak ini ada konsekuensinya, yakni ada aktivitas cuci-mencuci perabot sehabis masak yang tidak saya suka, hehe.

B.Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE-DO-HAVE” di bawah ini:

Kita ingin menjadi apa? (BE)

Ahli di bidang masakan.

Kita ingin melakukan apa? (DO)

Mencoba aneka resep masakan, serta mengikuti beragam kursus masakan dan kue. Selanjutnya mulai memasarkan hasil masakan yang saya buat untuk komersil.

Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Mempunyai restoran atau toko kue yang terjamin kehalalannya.

C. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Saya ingin senantiasa memasak makanan untuk keluarga sehingga makanan yang dikonsumsi terjamin kesehatan dan kehalalannya. Selain itu saya juga ingin memiliki restoran atau toko kue yang berlabel halal MUI.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan (strategic plan)

Merintis usaha kuliner, dimulai dari warung skala kecil hingga nantinya berskala resto.

Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

Dalam kurun waktu 1 tahun ini saya akan mulai memperkenalnya Dapur Bunda-Buya. Dimulai dengan berjualan makanan ala Minang di kalangan mahasiswa tiap pekan.

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu; BERUBAH atau KALAH. – Institut Ibu Profesional

 

Tags: , , , , ,

43. Nice Homework #6

Setelah libur lebaran sekitar 2 minggu, kelas matrikulasi kembali dimulai. Ada NHW lagi, hoho. Minggu ini tugasnya adalah “Belajar Menjadi Manager Keluarga yang Handal”.

Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.

Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

Selama di Canberra, aktivitas yang penting bagi saya antara lain ibadah, masak-memasak, menulis, menyuapi anak dan bermain bersamanya, membereskan rumah, serta mengikuti kajian setiap minggu. Clue-nya adalah pilih aktivitas penting yang juga menunjang bertambahnya jam terbang peran hidup saya. Oleh karena itu saya memilih 3 aktivitas, yakni:

  1. Ibadah; sholat dan membaca qur’an, selain itu mendengarkan kajian para ustadz di youtube sambil membereskan rumah.
  2. Memasak; sebagai wahana meng-explore aneka resep masakan yang baru.
  3. Menulis.

Lalu 3 aktivitas yang tidak penting, yaitu:

  1. Membuka Facebook; ini nih pencuri waktu nomer satu.
  2. Menonton film; tapi ini biasanya saya sambi dengan menyetrika ataupun masak.
  3. Membereskan mainan.

Waktu saya banyak dihabiskan untuk memasak, menyuapi anak dan bermain dengannya. Saya iri dengan para ibu yang bisa memasak dengan waktu yang singkat. Apalagi kalau lihat video memasak di youtube, cuma sepuluh menit makanan sudah matang. Lha koq saya bisa berjam-jam di dapur ya, mulai dari persiapan bumbu dan bahan-bahannya, proses memasaknya, serta cuci piring dan panci. Untuk menyenangkan hati, saya anggap ini sebagai ajang belajar menemukan resep yang pas dengan rasa maknyus. Kalau rasanya sudah oke, kan bisa untuk dijual. Teteup dong ya niat bisnis kulinernya, hehehe.

InsyaAlloh semoga bisa konsisten ya dalam meningkatkan kualitas aktivitas-aktivitas penting dalam hidup.

 

Tags: , , , ,

35. Nice Homework #2

Deg-degan.

Ya, begitulah rasanya ketika akan mendapatkan tugas mingguan di kelas matrikulasi. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mampu membuat otak berpikir. Dan sepertinya semakin susah dibanding minggu kemarin, hehe. Tugas minggu ini adalah peserta diharapkan membuat indikator apa saja agar mampu menjadi perempuan yang profesional. Nah, karena perempuan mempunyai tiga peran sekaligus, yakni sebagai individu, istri, dan ibu, maka ketiganya harus dibuatkan indikator-indikatornya.

Peserta mendapatkan guideline dalam pembuatan indikator, yakni SMART.

Specific: unik/detail

Measurable: terukur, misalnya dalam 1 bulan 4 kali menulis blog

Achiveable: bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah

Realistic: berhubungan dengan kondisi sehari-hari

Timebond: berikan batas waktu

Mirip-mirip lah ya dengan target/resolusi, yang kebetulan saya sudah membuatnya di awal tahun. Yeay, bisa copy-paste, hehe. Hanya yang belum adalah target menjadi istri yang baik. Duh jadi malu, hal ini bisa tidak terpikirkan pada saat membuat resolusi tahunan. Untuk mengisi indikator istri profesional, man-teman bisa memberikan pertanyaan ke suami: istri seperti apa yang bisa membuat suami bahagia. Sebelum suami menuliskan indikator-indikatornya, di awal saya sudah memberi warning “yang pasti jangan masak 3 kali sehari” 😀

Sebagai Individu

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Umum Membuat rencana aktivitas mingguan 1x / minggu
2 Kesehatan jasmani Makan buah & sayur serta minum susu Setiap hari
Olahraga; jalan kaki / senam 1x / minggu
3 Up-grade ilmu akhirat Menambah hapalan al-qur’an 1 ayat / hari
Mengikuti kajian pekanan 1x / minggu
Membaca kitab-kitab ulama 1x / 3 bulan
4 Up-grade ilmu dunia Kuliah S-2 1x
Mengikuti training/ seminar/ workshop 1x / 3 bulan

 

Sebagai Istri

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Keuangan Menyusun budget bulanan dengan rincian:

a.       ZIS : 2,5 – 5%

b.      Investasi : 20%

c.       Tabungan : 10%

d.      Cicilan hutang : 20 – 30%

e.      Pengeluaran : 35%

1x / bulan

(satu minggu sebelum bulan baru)

Menyusun evaluasi keuangan 2x / tahun
2 Silaturrahim dengan keluarga Menelepon orang tua & mertua 1x / minggu
Mengunjungi orang tua & mertua 1x / 2 minggu
Mengunjungi kerabat suami 2x / tahun
3 Memuliakan tamu Menyuguhkan hidangan 5 menit setelah kedatangan tamu

 

Sebagai Ibu

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Umum Membuat rencana aktivitas mingguan dengan anak 1x / minggu
2 Menjadi guru dan teladan yang baik bagi anak-anak Mengajarkan, mengajak & mendampingi anak membaca al-qur’an 1x / hari
Mengajarkan, mengajak & mendampingi anak tentang tata cara ibadah 1x / minggu
Mendampingi, mendengarkan, & memberi pengertian pada tontonan anak, serta kegiatan anak di sekolah Setiap hari

Inilah indikator versi saya setelah berdiskusi dengan suami. Kegiatan harian yang lebih rinci akan dibuat di rencana aktivitas mingguan, misalnya target membaca al-qur’an dalam sehari ¼ juz, membacakan buku anak setiap hari, dan lain sebagainya.

InsyaAlloh.

Menuliskan berbagai target merupakan langkah nyata bagi saya dalam berproses menjadi perempuan yang profesional.  

 

 

 

Tags: , , , , ,

34. Indikator Ibu Profesional

Memasuki minggu kedua di kelas matrikulasi Institut ibu Profesional, materi yang diberikan terkait bagaimana menjadi ibu yang profesional. Yuk, kita baca materi yang saya copas-kan.

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #4? Pekan ini kita akan belajar bersama:
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna:

  1. Perempuan yang telah melahirkan seseorang;
  2. Sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
  3. Panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
  4. Bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
  5. Yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna:

  1. Bersangkutan dengan profesi;
  2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;
    Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang:
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu:
1. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

2. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

3. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

4. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut:

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

 

Tags: , , , ,

33. Aliran Rasa NHW #1

Selain mengerjakan tugas mingguan yang disebut dengan Nice Homework (NHW), peserta matrikulasi juga diberikan tugas membuat tulisan yang isinya kesan yang didapat selama pengerjaan NHW. Tulisan tersebut dinamai “Aliran Rasa”. Ternyata tugas kelas matrikulasi lumayan banyak juga ya, hehe. Karena sudah berkomitmen mengikuti komunitas Ibu Profesional, maka harus bertanggungjawab mengerjakan setiap tugas yang diberikan.

Terkait NHW #1, sejujurnya saya terkejut dengan pertanyaannya. Mungkin ada yang beranggapan jika pertanyaan tersebut adalah hal sepele. Namun justru kesederhaan pertanyaan tersebut mampu membangkitkan rasa penasaran terhadap pencarian jati diri. Tentu pemaknaan dari pertanyaan NHW tiap orang berbeda. Bagi saya, cakupan universitas kehidupan ini sangatlah luas. Tak sebatas menjadi seorang ibu saja. Sebagai seseorang yang telah menikah dan memiliki anak, maka saya mempunyai peran sebagai istri dan ibu, untuk itu saya perlu membekali diri dengan ilmu pernikahan dan ilmu parenting. Sebagai pekerja, saya berperan sebagai statistisi, karenanya saya perlu memperdalam ilmu terkait statistik dan ekonomi.  Sebagai individu yang memiliki passion, saya memperdalam ilmu terkait masak-memasak dan menulis. Namun, sebagai manusia, saya mempunyai peran sebagai seorang muslim.

Sejalan dengan review NHW #1 yang akan saya tuliskan di bawah, akhirnya saya menyadari bahwa peran saya di muka bumi ini adalah sebagai muslim yang senantiasa berkewajiban untuk menyampaikan tentang kebaikan Islam kepada komunitas di sekitar saya. Kegiatan dakwah ini tak hanya tugas para ulama, tetapi setiap muslim, sesuai kemampuan dan kapasitas diri masing-masing.

Dalam Al-Qur’an, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyebut bahwa muslim yang beruntung adalah yang mengajak orang lain kepada kebaikan, sebagaimana tertulis dalam surat Ali ‘Imran ayat 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Mau menjadi muslim yang beruntung kan? 🙂

—–

Review NHW #1

ADAB SEBELUM ILMU

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #4?

Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline.

Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas  kehidupan, tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”.

INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN, AND EXPECTING DIFFERENT RESULT – Albert Einstein

Setelah kami cermati, ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini  biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu ”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#4 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review,  setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.

Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini:

MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI.

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/ kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,

SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU.

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.

Tetapi di  Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015

Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #4, 2017

Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #4, 2017

—–

Hal menarik dari review tersebut adalah kita harus fokus terhadap ilmu yang memang ingin kita dalami. Ternyata tidak semua ilmu perlu kita kuasai, apalagi ilmu yang tak selaras dengan pilihan ilmu di universitas kehidupan. Nasihat ini mengena banget ke saya, karena saya mudah terpengaruh lingkungan sekitar, serta menganggap saya bisa melakukan banyak hal di satu waktu. Misalnya, kerja kantoran iya, lalu berjualan baju online pun iya, ditambah mengikuti kursus memasak pun iya. Banyak maunya ya, hehehe.

Alhamdulilah, dengan NHW #1 saya belajar untuk fokus terhadap apa yang ingin saya lakukan. Meskipun saya memiliki banyak passion, tapi mulai dipilah mana yang mendukung dan mana yang tidak terlalu mendukung terhadap ilmu pilihan di universitas kehidupan ini.

Yuk para ibu, mari kita fokus, dan berani berkata “menarik, tapi tidak tertarik” pada godaan ilmu yang tak sejalan. Bismillah.

 

Tags: , , , ,

25. Buya dan Abuya

Selain pemilihan nama untuk si dedek bayi, kamipun berdiskusi tentang sebutan apa yang cocok untuk saya dan mas. Kita mengenal sebutan ayah – ibu atau papa – mama. Beberapa tahun terakhir booming penyebutan ayah – bunda serta abi – umi. Seorang teman ada yang menggunakan istilah ipi – imi, yang konon katanya terinspirasi oleh istilah pipi – mimi milik Anang & KD. Kalau ingin mengajarkan bahasa inggris pada anakmu sejak dini, kamu bisa menggunakan sebutan dad – mom 🙂

Setelah diskusi panjang, akhirnya kami memutuskan panggilan buya – bunda. Buya? Ketika mendengar kata “buya”, apa yang terlintas dalam pikiran teman-teman? Kakek-kakek, ulama, atau bahkan Buya Hamka? Untuk menjawab rasa penasaran kalian, berikut saya copy paste-kan tulisan mas terkait pengertian “buya”.

Makna kata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Buya merupakan serapan dari bahasa Arab yang memiliki dua makna dasar, yang pertama berarti Bapak dan yang kedua berarti ulama atau kyai.

Sedangkan kalau ditilik dari bahasa Arabnya, kata Buya atau Abuya sebenarnya bukan berasal dari bahasa Fusha melainkan bahasa Darojah atau bahasa pergaulan sehari-hari.

Dalam bahasa Arab, kata dasar dari panggilan Bapak adalah “A – Bun” yang secara gramatikal apabila bertemu dengan “ya mutakallim” maka huruf akhir dari kalimat tersebut harus dibaca “kasroh”, sehingga apabila “A-Bun” bertemu “Ya Mutakallim” seharusnya dibaca menjadi “Abii” yang berarti Bapak saya. Karena salah satu fungsi dari “Ya Mutakallim” yang disandarkan pada kalimat isim adalah menunjukkan kepemilikan tunggal (dalam hal ini Bapak punya saya).

-(mencoba kembali membongkar catatan-catatan Bahasa Arab Ma’had Al-Manar)-

Sama dengan “Abii” yang berarti Bapak saya, kata “Abuya”, sebenarnya berasal dari “A-bun” yang bertemu “Ya Mutakallim”, namun bunyi “Abun” dan “Ya” dibaca dengan tanpa mengikuti kaidah nahwiyah. Panggilan ini kemudian masuk ke Indonesia, dimana ada yang mempersingkatnya menjadi “Buya” dan ada yang tetap aslinya “Abuya”.

Penggunaan

Di Indonesia, bahasa Abuya dan Buya ini menjadi kata serapan, tapi seakan-akan yang berhak dipanggil Abuya dan Buya adalah kyai atau ulama besar, padahal tidak demikian. Walaupun panggilan Buya ini sangat lekat dengan sosok ulama besar asal Sumatera Barat, yakni Alm. Buya Hamka. Namun di Sumatera Barat sendiri, guru-guru mengaji di surau-surau kecil pun biasa dipanggil dengan sebutan Buya. Selain itu di keluarga istri, panggilan Buya sebagai sapaan kekeluargaan yang berarti “Bapak” terakhir kali digunakan oleh Nenek istri saya kepada Ayahandanya.

Perlu diketahui juga, jika panggilan Buya ternyata tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang Sumatera Barat saja.

Di Kulon (Banten-red) misalnya, di tanah asal Ayah saya ini, pernah hidup seorang ulama besar yang terkenal dengan kezuhudannya, setelah menolak bantuan miliaran rupiah dari keluarga cendana. Beliau adalah alm. Abuya Dimyati, atau KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni. Konon alm. Gus Dur sendiri pernah menunggu berjam-jam hanya untuk bertemu muka dengan Beliau ini.

Selain itu, di Cirebon, tempat yang saya akui menjadi kampung halaman. Saat ini masih hidup seorang ulama ahlus sunnah lainnya, yakni KH. Yahya Zainul Maarif atau yang sering dipanggil sebagai Buya Yahya.

Jadilah panggilan Buya ini menjadi milik Bapak-bapak seluruh Nusantara…

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in atashi

 

Tags: , , , , , ,