RSS

Category Archives: Romantis

37. Nice Homework #3

Memasuki minggu ketiga, dimana materi matrikulasi mengenai Membangun Peradaban Dari Rumah. Dari judulnya saja sudah berat ya. Bukan hanya membangun sebuah keluarga, tetapi peradabanlah yang akan terwujud dari sebuah rumah.

Untuk NHW kali ini, dibuat tiga kelompok, yakni bagi yang belum menikah, menikah, dan single parent. Untuk pertanyaan lengkapnya akan saya kopikan di bawah, tetapi sekarang ini fokus ke si empunya blog dulu ya 😀

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikarunia tim yang utuh sampai hari ini;

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda. Buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki alasan kuat bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Alloh, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal potensi yang anda miliki.
  4. Lihatlah lingkungan dimana anda tinggal saat ini. Tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Alloh, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Poin a, membuat surat cinta. Uhuk. Seumur-umur belum pernah membuat surat cinta. Dulu kala zaman ABG, pernah sih membuat puisi bertema cinta. Namun itu duluu. Aarrghh, tugas yang membuat galau. Dan juga baper, hehe.

Well, akhirnya alih-alih membuat surat, yang terbuat justru sebuah puisi. saya kirim puisinya lewat whatsapp. Ingin menulis dengan tangan, tapi apa daya tangan kaku karena suhu yang dingin. Bagaimana tanggapan sang suami setelah membaca puisi tersebut? Komentar pertamanya: “ini pasti tugas”. Hahaha. Dia memang paham kalau istrinya tidak jago untuk urusan romantis-romantisan. Lalu suami mengirimkan pesan balasan “wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokatuh istriku tersayang” disertai emoticon love-love 🙂

 

Untuk poin b,

Alhamdulillah saya dan suami diberi amanat seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 3 tahun 5 bulan. Muhammad Sayyidan Hashuro Fauzan namanya. Di usianya yang menginjak 3 tahun, ada beberapa potensi diri yang terlihat, yaitu:

  • Kritis dan suka bertanya. Setiap ada sesuatu pasti Hashuro akan bertanya pada bunda atau buyanya, ini apa, itu apa, untuk apa, kalau tidak ini lalu kenapa, dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan lainnya.
  • Aktif. Mungkin setiap anak laki-laki aktif ya, seperti tidak pernah kehabisan energi.
  • Perhatian. Contoh dari sifat perhatiannya adalah ketika buya akan berangkat ke kampus, Hashuro mengingatkan apakah buya sudah membawa kacamata. Dan ternyata memang belum terbawa. Pernah juga ketika saya dipijit oleh suami dan terlihat kesakitan, Hashuro bilang “Buya, pijitnya jangan kenceng-kenceng”. Mendengar perkataannya membuat hati meleleh.
  • Daya ingat yang kuat. Hashuro masih mengingat berbagai peristiwa yang terjadi ketika kami tinggal di Jakarta, meskipun hal tersebut sudah berselang 1,5 tahunan.

 

Lanjut ke poin c ya.

Manusia merupakan makhluk yang unik. Meskipun kepribadian manusia digolongkan menjadi koleris, plegmatis, melankolis, dan sanguinis, tetapi sejatinya tiap orang memiliki setiap unsur tersebut. Ketika mencoba untuk mengetes cenderung bertipe kepribadian apakah saya, saya menemukan bahwa tidak ada unsur yang sangat dominan. Bisa dibilang hampir seimbang. Kalau hampir seimbang berarti ada kecenderungan dong? Yup, hasilnya saya cenderung bertipe melankolis.

Beberapa potensi diri saya:

  • Handal dalam memasak. Sebenarnya handal yang saya maksud belum setingkat dengan para chef, hehe. Hanya saja saya senang memasak dan mencoba aneka resep baru. Selain itu masakan yang saya buat rasanya enak (baca: enak versi suami :D). Jadi, bolehlah yaa hal ini dimasukkan sebagai potensi diri J Dengan kegemaran memasak ini saya pun mencoba berjualan makanan Indonesia selama di Canberra.
  • Analitis. Saya terbiasa untuk menganalisis sesuatu dan berpikir dengan beberapa sudut pandang.  Mungkin ini ada kaitannya karena saya mengambil jurusan statistik semasa kuliah.
  • Perfeksionis. Entahlah, apakah ini bisa dianggap sebagai potensi yang positif atau justru negatif. Karena kadang sifat ke-perfeksionis-an saya membuat suatu pekerjaan menjadi lebih sulit dan tidak praktis.
  • Teratur. Saya menyukai hal-hal yang teratur, mulai dari peletakan buku, pakaian, aneka bumbu di dapur, dan perabot rumah, hingga ke pekerjaan kantor.
  • Independen. Hal ini berhubungan dengan sifat perfeksionis saya, dimana jika mengandalkan orang kadang hasilnya tidak sesuai dengan kemauan saya.

 

Terakhir, poin d.

Saat ini saya tinggal di Canberra, menemani suami yang sedang melanjutkan studinya. Masa-masa awal kedatangan di Australia, setahun yang lalu, merupakan masa yang sulit bagi saya. Selain harus beradaptasi dengan suhu minus di kala winter, aktivitas harianpun juga ikut berubah. Selama 8 tahun saya bekerja di kantor, tetapi kemudian tiba-tiba harus stay at home 24 jam sehari dengan hanya mengurus anak dan urusan rumah tangga lainnya. Ini sungguhlah sulit. Tak ada teman mengobrol (karena suami sudah sibuk kuliah dan kerja part-time) menjadikan masa awal kedatangan saya semakin sulit.

Meskipun telat menyadarinya, ternyata banyak hikmah yang saya peroleh dengan keputusan CLTN (Cuti Luar Tanggungan Negara) ini. Beberapa hikmah yang saya dapat antara lain saya menjadi lebih dekat dengan anak. Seharian berinteraksi dengan anak membuat saya lebih memahaminya dan melihat langsung tumbuh kembangnya. Hikmah lainnya adalah saya bertemu dengan komunitas baru, seperti halaqoh dan darma wanita. Kapan lagi bisa menjadi ibu-ibu darma wanita (DW)? Ketika saya kerja kan tidak sempat menghadiri acara DW yang diadakan kantor suami.

Menetap di negeri orang tentu mempunyai tantangan tersendiri. Selain menjadi minoritas (karena muslim), perbedaan makanan, bahasa, dan budaya juga menjadi tantangan. Namun di balik tantangan tersebut tersimpan hikmah yang akan diperoleh jika kita mau merenung. Dengan waktu luang yang dimiliki saya bisa mengikuti beragam kursus online, salah satunya adalah Institut Ibu Profesional.

Tahun depan InsyaAlloh saya bersama suami dan anak akan kembali ke tanah air. Pun di sana sudah menanti berbagai tantangan, terutama tantangan dalam membesarkan anak. Kita ketahui bersama dari berita di media, masalah yang terjadi seperti kejahatan terhadap anak, sistem pendidikan di sekolah, ketidaknyamanan angkutan publik, ketidakteraturan dalam berkendara, dan lain sebagainya. Semoga saya dan suami mampu menghadapi tantangan-tantangan tersebut dan bisa mengambil hikmahnya.

Advertisements
 

Tags: , ,

29. Dinda

Dinda…

Sungguh aku tak pernah bisa mengira,

Akan ada suatu titik dimana kisah ini berasal-bermula.

Ketika dua hati saling bersinggungan,

Meski tak pernah didahului saling perkenalan.

 

Lantas segalanya mengalir seperti air,

Menemukan jalannya dari hulu menuju ke hilir.

Lewat kata yang merangkai titik dan koma,

Lantas membentuk alur nan memesona.

 

Ah Dinda…

Sungguh tak ada yang mengerti tentang jalan yang menjejak di hadapan,

Kita seperti tengah menyibak tirai misteri yang Tuhan ciptakan.

Agar kita berlari atau bersinggah sejenak,

Mengatur nafas lantas kembali bergegas beranjak.

 

Berkejaran dengan waktu yang memangsa jarak antara kita,

Sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa…

 

Ketika sepasang insan yang kepaknya tak pernah beriringan,

Telah menemukan tambatan jiwa yang mengisi setiap kekosongan.

Ketika yang separuh akan tergenapkan,

Dan tulang rusuk yang hilang telah ditemukan.

 

Meski mulanya ada gundah yang membuncah.

Ada pula ragu yang menyaru.

Lalu menjelma ia menjadi rindu yang mengharu.

 

Maka berserahlah hati ini pada Penggenggamnya.

Agar sirna segala prasangka.

Agar musnah segala gundah.

Hingga berpasrah pada kehendak-Nya.

 

Dinda…

Betapa akan selalu ada hal yang memesonakan dalam kehidupan,

Namun acapkali ia tak dapat dijelaskan dengan penalaran.

Maka biarkan saja ia menyisakan sebuah kenangan manis di hatimu,

Termasuk ketika kita membincangkan pertemuan dua hati, kau dan aku…

 

Ketika kata-kata sudah kehilangan maknanya,

Kita pun hanya mampu menyisakan sebuah tanya…

“Mengapa sepasang mata yang tak pernah bersua, bisa saling jatuh dan mencinta?”

Aku menatap matamu, mencoba menyusuri setiap jejak yang menunjukkan jawabannya.

 

Ah, masih ingatkah kau Dinda?

Pada suatu pagi yang tak pernah bisa ku lupa…

Saat pertama kita berjumpa, lalu kita hanya bisa terdiam kehilangan kata

Dalam dimensi sunyi kita hanya mampu tersipu menggumamkan rasa.

Sungguh tidak ada yang kebutulan di sisi Alloh”, begitu kataku dulu…

 

Bahkan jatuhnya rinai hujan hingga gugurnya dedaunan,

Tumbuhnya kecambah dan hembusan angin dari sesudut lautan.

Semuanya telah tercatat dan terperhitungkan.

 

Apatah lagi risalah dua hati,

Ia hanya bisa dimengerti oleh bahasa batin yang bernama ketentraman,

Ia hanya bisa diuraikan oleh jiwa yang telah terpasang-pasangkan.

 

Jiwa yang telah dipasangkan oleh Tuhannya dengan cara seksama,

Tanpa sempat kita tahu detail ceritanya.

Bisa jadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,

Layaknya proklamsi republik ini katanya.

Atau dalam rupa perlahan-lahan seperti benih yang berkecambah di hamparan dunia.

 

Ah Dinda…

Aku seolah terlupa

Bukankah cinta tak sekedar memandang wajah, tapi ia juga menjenguk hati?

Bukankah cinta tak sekedar menggenggam tangan, tapi ia juga merengkuh jiwa?

Bukankah cinta tak sekedar mengagumi kelebihan, tapi ia juga membersamai setiap kekurangan?

 

Lalu kau pun tersenyum, mengulum ketersipuan dalam hatimu.

Dan aku pun hanya bisa merona,

Karena ku tahu, itulah jawaban cintamu yang paling sederhana.

 

Maka ketika sepasang tangan mulai bergenggam atas nama Tuhan,

Dalam sebuah akad yang akan menggetarkan arsy Yang Agung.

 

Disaat itulah kau izinkan aku tuk melabuhkan hati ini di tepian pantai cintamu.

Dan ketika itulah kau pilihkan bahuku untuk tempat bersandar letihmu.

Lantas kau akan mulai berceloteh tentang segala mimpi dan citamu.

Dan aku akan selalu berusaha untuk menjadi pendengar setiamu.

 

Dinda…

Maka dalam setiap mimpi dan cita

Akan ada sebuah janji yang menuntut pembuktiannya

Dalam kelindan ribuan kompromi, kita pun akan tiba pada satu masa yang niscaya

 

Tatkala kita harus memilih dan berlari.

Ingin berbalik arah, lantas menjadi seorang pemimpi.

Ataukah kita memilih jalan menempuh pergi.

Lalu menunaikan amanah yang tak pernah mau dipikul langit dan bumi.

 

Maka, untuk seribu langkah yang akan tertempuh lalu

Untuk setiap takdir yang akan menggurat tergaris

Dan untuk sejuta warna hidup yang melukis cerita penuh berharap

Aku kan selalu membutuhkan hadirmu di sisiku, Dindaku…

 

Dalam rupa do’a yang kan kau panjatkan hingga ke atas arasy Yang Agung

Dalam wujud dukungan cintamu yang elok dan menentramkan

Bahkan dalam bahasa tegur dan nasihat yang kukuh menghujam

Aku akan slalu merindukannya dan menyalinnya dalam lembaran-lembaran hatiku…

 

Jakarta,  4 Januari 2013

Di tengah taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu

(Raudhoh al-muhibbin wa nudzhoh al musytaqiin)

=====

Kelanjutan posting sebelumnya, inilah puisi karya si mas yang kami niatkan untuk dilampirkan di undangan pernikahan. Namun apa daya niatan itu batal, panjang banget euy 😀

Note:

Harap cantumkan link blog ini ketika kamu menggunakan keseluruhan puisi atau sebagian puisi tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2016 in atashi,,, pernikahan, Romantis

 

Tags: , , , ,