RSS

Category Archives: pernikahan

41. Nice Homework #5

Untuk NHW kali ini, peserta matrikulasi diminta untuk membuat desain pembelajaran bagi dirinya masing-masing. Masuk akal, karena kalau si ibu tak punya dasar road map pembelajaran bagi dirinya sendiri, bagaimana ingin mendidik anak-anaknya dengan terarah. Duuh, tiap NHW saya berasa dijewer deh. Anaknya ini (padahal sudah jadi emak) masih suka moody, tidak fokus dan tidak konsisten dengan target yang telah ditetapkan di awal.

Karena di NHW #5 tidak ada clue yang spesifik bagaimana membuat desain pembelajaran, maka saya googling terlebih dahulu apa itu desain pembelajaran dan bagaimana membuatnya. Website ini jadi acuan saya dalam membuat desain pembelajaran.

http://www.mediabelajar.cf/2013/06/model-model-desain-pembelajaran.html

Ada beberapa model yang bisa digunakan, antara lain: model Dick dan Carey, model ASSURE, model Gerlach dan Ely, model ADDIE, model Degeng, model PPSI, model J.E. Kemp, model Instructional System Design (ISD), dan Model Pengembangan Instruksional (MPI).

Dari sekian banyak metode, saya memilih model ADDIE untuk membuat desain pembelajaran. Selain pas di hati, metode ini juga sederhana. Saya tipe yang suka kepraktisan dan jelas alurnya. Kalau metode yang terlalu rumit, nantinya malah keblinger sendiri, hehe. Metode ADDIE merupakan model desain pembelajaran yang menggunakan 5 langkah sederhana, yakni Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.

Tiap orang adalah unik, jadi temukan desain pembelajaran yang sesuai dengan kepribadian dan kondisi dirimu. Berikut desain pembelajaran ala saya yaa.

ANALYSIS

Menganalisis kebutuhan untuk menentukan masalah dan solusi yang tepat dan menentukan kompetensi siswa.

Kebutuhan saya adalah memahami ilmu agama Islam dengan baik dan menjadi wirausaha di bidang kuliner.

DESIGN

Menentukan kompetensi khusus, metode, bahan ajar, dan pembelajaran.

Ilmu agama Islam

Kompetensi khusus:

  • Menguasai cara membaca al-qur’an yang baik dan benar, dari sisi makhraj huruf dan tajwid.
  • Menguasai bahasa Arab
  • Menguasai dasar-dasar ilmiah ilmu agama Islam, seperti fiqh, hadist, sirah nabawiyah, dll.
  • Memiliki kemampuan dalam hal menyampaikan materi keagamaan dengan baik.

Metode belajar:

Secara otodidak (online dan membaca buku) serta mengikuti kajian dan kursus yang terkait.

Bahan ajar:

  • Buku/kitab penunjang
  • Gadget untuk browsing materi secara online

 

Ilmu kuliner

Kompetensi khusus:

  • Menguasai teknik cooking dan baking dengan baik dan benar.
  • Memiliki kemampuan dalam hal manajemen bisnis kuliner.
  • Memiliki kemampuan dalam hal pemasaran produk.

Metode belajar:

Secara otodidak (online, membaca buku, dan praktek resep) serta mengikuti kursus yang terkait.

Bahan ajar:

  • Buku resep masakan & kue
  • Gadget untuk browsing materi secara online
  • Peralatan memasak yang memadai

DEVELOPMENT

Memproduksi program dan bahan ajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

Memproduksi bahan ajar?

Hmm, kalau saya lebih ke memperbanyak referensi semisal buku-buku kali ya.

IMPLEMENTATION

Melaksanakan program pembelajaran dengan menerapkan desain atau spesifikasi program pembelajaran.

Selain kegiatan belajar, di sini saya juga memasukkan kegiatan membuat jadwal belajar yang di-break-down ke bulanan, mingguan, dan harian. Hari ini fokus ke ilmu apa, besok tentang apa, dan seterusnya. Karena ada beberapa jurusan ilmu yang ingin saya tekuni, maka saya harus membagi waktunya. Waktu yang saya gunakan untuk kegiatan implementation ini 1 – 2 jam per hari.

EVALUATION

Melakukan evaluasi program pembelajaran dan evaluasi hasil belajar.

Kegiatan evaluasi akan diadakan setiap 1 bulan sekali, me-review checklist kegiatan serta melibatkan suami sebagai second opinion. Karena jika dilihat dari sudut pandang saya pasti hasilnya oke-oke saja, hehe.

Sekian pembuatan desain pembelajaran ala saya. Semoga saya istiqomah dalam proses belajar menjadi individu, istri, dan ibu yang bahagia, aamiin 🙂

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

39. Nice Homework #4

Memasuki materi minggu keempat, masih semangat dong ya. Berikut NHW #4 yang saya kerjakan.

Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Ketika mendapatkan pertanyaan untuk memilih SATU jurusan ilmu, sejujurnya itu adalah pertanyaan yang sulit. Karena ada empat ilmu yang ingin saya tekuni, yaitu ilmu agama, ekonomi, kuliner, dan menulis. Saya ingin mendalami ilmu agama Islam karena sebagai muslim mempunyai tugas untuk menyampaikan kebaikan Islam di lingkungan sekitar. Ilmu ekonomi ingin saya pelajari karena berhubungan erat dengan pekerjaan sehari-hari di Jakarta. Ilmu kuliner dan kepenulisan ingin saya tekuni karena saya jatuh cinta dengan dunia masak-memasak dan menulis. Selain itu kemampuan menulis juga menunjang pekerjaan saya yang dituntut untuk bisa menulis laporan ilmiah serta menunjang kegiatan dakwah.

Saat ini saya akan fokus untuk mendalami ilmu agama Islam dan kuliner.

Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

*Tutup muka*

Belum semua checklist yang saya buat mampu dijalankan. Harus lebih semangat nih!

Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Untuk menjawab pertanyaan ini saya merujuk pada al-Qur’an surat al-Mulk ayat 1-2: “Maha Suci Alloh yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”.

Semasa bekerja, saya sibuk dengan rutinitas kantoran dan beragam deadline tugas yang diberikan atasan. Tak terlalu memikirkan apa visi misi hidup saya. Go with the flow aja, dengan melakukan tugas yang ada di depan mata dengan baik. Namun di saat sedang cuti seperti sekarang ini yang notabene memiliki waktu luang untuk merenung, kemudian bertemu orang-orang baru yang menginspirasi saya, lalu bergabung dengan komunitas IIP, saya menyadari apa misi hidup saya di muka bumi ini. Saya ingin karya saya bermanfaat bagi banyak orang.

Misi hidup: memiliki karya yang bermanfaat bagi banyak orang

Bidang: ilmu agama islam dan kuliner

Peran: pendakwah di lingkungan sekitar serta wiraswasta di bidang kuliner

Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Ilmu agama Islam

KM 0 – KM 1

(6 bulan)

Mengikuti kajian ·  Mengikuti halaqoh dan kajian selama    di Canberra

·  Menonton youtube ceramah ustadz

KM 1 – KM 2

(3 tahun)

Mempelajari cara membaca al-Qur’an yang baik dan benar ·  Mengikuti kelas Tahsin di Jakarta
Membaca buku-buku
Mengikuti kajian ·  Mengikuti halaqoh dan kajian di              Jakarta

·  Menonton youtube ceramah ustadz

KM 2 – KM 3

(1 tahun)

Mempelajari public speaking ·  Mengikuti training public speaking
KM 3 – KM 4

(1 tahun)

Mempelajari tentang halaqoh & menjadi murobbi yang baik

Ilmu kuliner

KM 0 – KM 1

(6 bulan)

Mencoba aneka resep masakan ·  Mencoba resep masakan yang akan        dipasarkan

·  Menentukan masakan apa yang akan    difokuskan untuk bisnis kuliner

Merintis usaha berjualan makanan ·  Memperkenalkan nama usaha

·  Berjualan makanan dengan sistem          pre-order

KM 1 – KM 2

(1 tahun)

Mengikuti kursus memasak ·  Mengikuti kursus memasak di Jakarta
Merintis usaha berjualan makanan dengan sistem pre-order ·  Memutuskan jenis masakan apa yang    akan dijual serta mem-fix-kan                  resepnya

·  Mencari karyawan untuk memasak

·  Memperkenalkan nama usaha ke            lingkungan kantor

·  Berjualan makanan dengan sistem          pre-order

KM 2 – KM 3

(2 tahun)

Merintis usaha berjualan makanan dengan membuka warung makan
KM 3 – KM 4

(2 tahun)

Merintis skema franchise

Target ini saya buat secara beririsan dan telah mempertimbangkan waktu 2 tahun untuk masa studi S2. Selain itu tahap pertama saya buat dengan rentang waktu 6 bulan karena InsyaAlloh akhir tahun ini saya beserta keluarga akan kembali ke tanah air. Selain itu, waktu yang saya sisihkan dalam mempelajari ilmu-ilmu tersebut hanya 1 – 2 jam per hari karena mempertimbangkan peran saya sebagai ibu rumah tangga dan rutinitas kantor. Semoga ALLOH memberikan kemudahan dan keberkahan waktu bagi saya agar bisa mencapai target-target tersebut.

Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Sebagian sudah dimasukkan ke dalam checklist, tetapi checklist harian akan diubah kembali menyesuaikan ilmu-ilmu yang akan saya dalami.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan.

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Dengan menyebut nama ALLOH saya ber-azzam untuk bisa bermanfaat bagi banyak orang melalui karya-karya saya.

InsyaAlloh.

 

Tags: , , , , ,

38. Aliran Rasa NHW #3

Rasa yang saya dapat ketika mengerjakan NHW kali ini berbeda dibanding dua NHW lainnya. Lebih emosional karena ditugaskan membuat surat cinta untuk suami. Cukup lama juga berpikir ingin menulis apa, bahkan hingga mencoba flashback rasa yang dialami ketika pertama kali bertemu dengannya. Saya berterima kasih untuk lagu soundtrack drama Korea yang telah menemani dalam pembuatan surat cinta ini. Musik yang mendayu-dayu tersebut berhasil memunculkan sisi romantisme saya, hehe. Alhasil terbuatlah sebuah puisi. Mohon maaf ya puisi tersebut tidak akan saya share, cukup untuk konsumsi pribadi saja J.

Tak hanya berhenti di pembuatan suratnya saja, tetapi rasa dag-dig-dug juga melanda dalam proses pengirimannya. Awalnya ingin ditulis di secarik kertas. Apa daya tangan kaku untuk menulis akibat suhu yang dingin. Maklum, harus irit listrik tanpa pemakaian heater supaya tagihan listrik tidak membengkak drastis. Watt-nya besar euy, bisa 1000 hingga 2000 watt untuk satu heater saja :(. Setelah membaca puisi yang saya kirim via Whatsapp, respon pertama suami cuma bilang “ini pasti tugas”. Suami lalu melanjutkan “karena tumben-tumbenan bikin begini”. Dan sayapun cuma bisa tertawa. Dia memang paham kalau istrinya lebih prefer memasak makanan request suami ketimbang membuat kata-kata romantis untuk menunjukkan rasa sayang, heuheu.

Selain membuat surat cinta, dengan tugas NHW 3 ini saya diajak untuk memahami hikmah dari setiap kejadian hidup. Karena sesungguhnya setiap skenario kehidupan mengandung hikmah bagi orang-orang yang berpikir. Contohnya adalah dengan keputusan menemani suami yang berkuliah di negeri orang, saya merasakan suka dukanya hidup merantau yang jauh dari keluarga. Harus mandiri, terutama dalam hal masakan. Tak ada rumah makan Padang, warteg, ataupun penjual makanan keliling yang bisa diandalkan. Ingin makan bakso, mie ayam, atau pempek? Ya harus memasaknya sendiri. Hikmahnya skill memasak saya menjadi terasah. Kalau di Jakarta sih cukup order lewat go-food, tidak perlu repot berjam-jam di dapur. Selain itu, dengan merantau akan mempertemukanmu dengan orang-orang baru, menjadikannya sebagai teman bahkan seperti keluarga. Siapa sangka kini saya berteman dengan seorang psikolog yang juga menemani suaminya melanjutkan studi doktoral. Alhamdulillah bisa konsultasi gratis masalah parenting, hehe.

ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 23: “Dia (ALLOH) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya”.  

Semua sudah ditetapkan dalam takdir ALLOH dan sesuai dengan ilmu dan hikmah ALLOH. Kita sebagai manusia sangat tidak layak bertanya-tanya: “mengapa ALLOH takdirkan ini, mengapa ALLOH takdirkan itu”. Karena kita hanya hamba dan kitalah yang akan diminta pertanggung jawaban atas perbuatan kita, sedang ALLOH tidak akan ditanya. – dr. Raehanul Bahraen

 

Berhentilah mengeluh,

buka mata, buka hati,

lihat sekeliling,

lalu bersyukurlah.

 

Tags: , , , ,

37. Nice Homework #3

Memasuki minggu ketiga, dimana materi matrikulasi mengenai Membangun Peradaban Dari Rumah. Dari judulnya saja sudah berat ya. Bukan hanya membangun sebuah keluarga, tetapi peradabanlah yang akan terwujud dari sebuah rumah.

Untuk NHW kali ini, dibuat tiga kelompok, yakni bagi yang belum menikah, menikah, dan single parent. Untuk pertanyaan lengkapnya akan saya kopikan di bawah, tetapi sekarang ini fokus ke si empunya blog dulu ya 😀

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikarunia tim yang utuh sampai hari ini;

  1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda. Buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki alasan kuat bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
  2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
  3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Alloh, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal potensi yang anda miliki.
  4. Lihatlah lingkungan dimana anda tinggal saat ini. Tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Alloh, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Poin a, membuat surat cinta. Uhuk. Seumur-umur belum pernah membuat surat cinta. Dulu kala zaman ABG, pernah sih membuat puisi bertema cinta. Namun itu duluu. Aarrghh, tugas yang membuat galau. Dan juga baper, hehe.

Well, akhirnya alih-alih membuat surat, yang terbuat justru sebuah puisi. saya kirim puisinya lewat whatsapp. Ingin menulis dengan tangan, tapi apa daya tangan kaku karena suhu yang dingin. Bagaimana tanggapan sang suami setelah membaca puisi tersebut? Komentar pertamanya: “ini pasti tugas”. Hahaha. Dia memang paham kalau istrinya tidak jago untuk urusan romantis-romantisan. Lalu suami mengirimkan pesan balasan “wa’alaykumsalam warohmatullohi wabarokatuh istriku tersayang” disertai emoticon love-love 🙂

 

Untuk poin b,

Alhamdulillah saya dan suami diberi amanat seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 3 tahun 5 bulan. Muhammad Sayyidan Hashuro Fauzan namanya. Di usianya yang menginjak 3 tahun, ada beberapa potensi diri yang terlihat, yaitu:

  • Kritis dan suka bertanya. Setiap ada sesuatu pasti Hashuro akan bertanya pada bunda atau buyanya, ini apa, itu apa, untuk apa, kalau tidak ini lalu kenapa, dan pertanyaan-pertanyaan lanjutan lainnya.
  • Aktif. Mungkin setiap anak laki-laki aktif ya, seperti tidak pernah kehabisan energi.
  • Perhatian. Contoh dari sifat perhatiannya adalah ketika buya akan berangkat ke kampus, Hashuro mengingatkan apakah buya sudah membawa kacamata. Dan ternyata memang belum terbawa. Pernah juga ketika saya dipijit oleh suami dan terlihat kesakitan, Hashuro bilang “Buya, pijitnya jangan kenceng-kenceng”. Mendengar perkataannya membuat hati meleleh.
  • Daya ingat yang kuat. Hashuro masih mengingat berbagai peristiwa yang terjadi ketika kami tinggal di Jakarta, meskipun hal tersebut sudah berselang 1,5 tahunan.

 

Lanjut ke poin c ya.

Manusia merupakan makhluk yang unik. Meskipun kepribadian manusia digolongkan menjadi koleris, plegmatis, melankolis, dan sanguinis, tetapi sejatinya tiap orang memiliki setiap unsur tersebut. Ketika mencoba untuk mengetes cenderung bertipe kepribadian apakah saya, saya menemukan bahwa tidak ada unsur yang sangat dominan. Bisa dibilang hampir seimbang. Kalau hampir seimbang berarti ada kecenderungan dong? Yup, hasilnya saya cenderung bertipe melankolis.

Beberapa potensi diri saya:

  • Handal dalam memasak. Sebenarnya handal yang saya maksud belum setingkat dengan para chef, hehe. Hanya saja saya senang memasak dan mencoba aneka resep baru. Selain itu masakan yang saya buat rasanya enak (baca: enak versi suami :D). Jadi, bolehlah yaa hal ini dimasukkan sebagai potensi diri J Dengan kegemaran memasak ini saya pun mencoba berjualan makanan Indonesia selama di Canberra.
  • Analitis. Saya terbiasa untuk menganalisis sesuatu dan berpikir dengan beberapa sudut pandang.  Mungkin ini ada kaitannya karena saya mengambil jurusan statistik semasa kuliah.
  • Perfeksionis. Entahlah, apakah ini bisa dianggap sebagai potensi yang positif atau justru negatif. Karena kadang sifat ke-perfeksionis-an saya membuat suatu pekerjaan menjadi lebih sulit dan tidak praktis.
  • Teratur. Saya menyukai hal-hal yang teratur, mulai dari peletakan buku, pakaian, aneka bumbu di dapur, dan perabot rumah, hingga ke pekerjaan kantor.
  • Independen. Hal ini berhubungan dengan sifat perfeksionis saya, dimana jika mengandalkan orang kadang hasilnya tidak sesuai dengan kemauan saya.

 

Terakhir, poin d.

Saat ini saya tinggal di Canberra, menemani suami yang sedang melanjutkan studinya. Masa-masa awal kedatangan di Australia, setahun yang lalu, merupakan masa yang sulit bagi saya. Selain harus beradaptasi dengan suhu minus di kala winter, aktivitas harianpun juga ikut berubah. Selama 8 tahun saya bekerja di kantor, tetapi kemudian tiba-tiba harus stay at home 24 jam sehari dengan hanya mengurus anak dan urusan rumah tangga lainnya. Ini sungguhlah sulit. Tak ada teman mengobrol (karena suami sudah sibuk kuliah dan kerja part-time) menjadikan masa awal kedatangan saya semakin sulit.

Meskipun telat menyadarinya, ternyata banyak hikmah yang saya peroleh dengan keputusan CLTN (Cuti Luar Tanggungan Negara) ini. Beberapa hikmah yang saya dapat antara lain saya menjadi lebih dekat dengan anak. Seharian berinteraksi dengan anak membuat saya lebih memahaminya dan melihat langsung tumbuh kembangnya. Hikmah lainnya adalah saya bertemu dengan komunitas baru, seperti halaqoh dan darma wanita. Kapan lagi bisa menjadi ibu-ibu darma wanita (DW)? Ketika saya kerja kan tidak sempat menghadiri acara DW yang diadakan kantor suami.

Menetap di negeri orang tentu mempunyai tantangan tersendiri. Selain menjadi minoritas (karena muslim), perbedaan makanan, bahasa, dan budaya juga menjadi tantangan. Namun di balik tantangan tersebut tersimpan hikmah yang akan diperoleh jika kita mau merenung. Dengan waktu luang yang dimiliki saya bisa mengikuti beragam kursus online, salah satunya adalah Institut Ibu Profesional.

Tahun depan InsyaAlloh saya bersama suami dan anak akan kembali ke tanah air. Pun di sana sudah menanti berbagai tantangan, terutama tantangan dalam membesarkan anak. Kita ketahui bersama dari berita di media, masalah yang terjadi seperti kejahatan terhadap anak, sistem pendidikan di sekolah, ketidaknyamanan angkutan publik, ketidakteraturan dalam berkendara, dan lain sebagainya. Semoga saya dan suami mampu menghadapi tantangan-tantangan tersebut dan bisa mengambil hikmahnya.

 

Tags: , ,

36. Aliran Rasa NHW #2

Tanya: “Bagaimana kesan anda selama mengerjakan NHW #2?”

Jawab: “Hmm, apa ya?”

Ternyata menuliskan rasa tak semudah yang dibayangkan. Butuh the power of deadline. Yup, ide akan keluar justru disaat detik-detik batas pengumpulan tugas, hehe. Ini jangan dicontoh ya man-teman 😀

Untuk NHW #2, pertanyaannya tidak sulit untuk dijawab. Namun yang membuat saya lama untuk membuatnya dikarenakan suami yang sedang sibuk dengan deadline tugas-tugasnya dan persiapan ujian akhir semester. Jadilah baru bisa mengobrol panjang untuk tugas ini ketika weekend.

Saya bersyukur mendapat tugas NHW #2 ini, karena salah satu indikator yang harus dibuat berkaitan dengan menjadi istri yang membahagiakan suami. Ini yang terlupakan oleh saya. Selama ini kalau membuat target tahunan yang terpikirkan hanya untuk diri saya dan anak. Saya lupa bahwa suami juga punya hak.

Mulai sekarang mari membuat target:

menjadi individu, istri, dan ibu yang bahagia.

 

Tags: , , ,

35. Nice Homework #2

Deg-degan.

Ya, begitulah rasanya ketika akan mendapatkan tugas mingguan di kelas matrikulasi. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mampu membuat otak berpikir. Dan sepertinya semakin susah dibanding minggu kemarin, hehe. Tugas minggu ini adalah peserta diharapkan membuat indikator apa saja agar mampu menjadi perempuan yang profesional. Nah, karena perempuan mempunyai tiga peran sekaligus, yakni sebagai individu, istri, dan ibu, maka ketiganya harus dibuatkan indikator-indikatornya.

Peserta mendapatkan guideline dalam pembuatan indikator, yakni SMART.

Specific: unik/detail

Measurable: terukur, misalnya dalam 1 bulan 4 kali menulis blog

Achiveable: bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah

Realistic: berhubungan dengan kondisi sehari-hari

Timebond: berikan batas waktu

Mirip-mirip lah ya dengan target/resolusi, yang kebetulan saya sudah membuatnya di awal tahun. Yeay, bisa copy-paste, hehe. Hanya yang belum adalah target menjadi istri yang baik. Duh jadi malu, hal ini bisa tidak terpikirkan pada saat membuat resolusi tahunan. Untuk mengisi indikator istri profesional, man-teman bisa memberikan pertanyaan ke suami: istri seperti apa yang bisa membuat suami bahagia. Sebelum suami menuliskan indikator-indikatornya, di awal saya sudah memberi warning “yang pasti jangan masak 3 kali sehari” 😀

Sebagai Individu

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Umum Membuat rencana aktivitas mingguan 1x / minggu
2 Kesehatan jasmani Makan buah & sayur serta minum susu Setiap hari
Olahraga; jalan kaki / senam 1x / minggu
3 Up-grade ilmu akhirat Menambah hapalan al-qur’an 1 ayat / hari
Mengikuti kajian pekanan 1x / minggu
Membaca kitab-kitab ulama 1x / 3 bulan
4 Up-grade ilmu dunia Kuliah S-2 1x
Mengikuti training/ seminar/ workshop 1x / 3 bulan

 

Sebagai Istri

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Keuangan Menyusun budget bulanan dengan rincian:

a.       ZIS : 2,5 – 5%

b.      Investasi : 20%

c.       Tabungan : 10%

d.      Cicilan hutang : 20 – 30%

e.      Pengeluaran : 35%

1x / bulan

(satu minggu sebelum bulan baru)

Menyusun evaluasi keuangan 2x / tahun
2 Silaturrahim dengan keluarga Menelepon orang tua & mertua 1x / minggu
Mengunjungi orang tua & mertua 1x / 2 minggu
Mengunjungi kerabat suami 2x / tahun
3 Memuliakan tamu Menyuguhkan hidangan 5 menit setelah kedatangan tamu

 

Sebagai Ibu

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Umum Membuat rencana aktivitas mingguan dengan anak 1x / minggu
2 Menjadi guru dan teladan yang baik bagi anak-anak Mengajarkan, mengajak & mendampingi anak membaca al-qur’an 1x / hari
Mengajarkan, mengajak & mendampingi anak tentang tata cara ibadah 1x / minggu
Mendampingi, mendengarkan, & memberi pengertian pada tontonan anak, serta kegiatan anak di sekolah Setiap hari

Inilah indikator versi saya setelah berdiskusi dengan suami. Kegiatan harian yang lebih rinci akan dibuat di rencana aktivitas mingguan, misalnya target membaca al-qur’an dalam sehari ¼ juz, membacakan buku anak setiap hari, dan lain sebagainya.

InsyaAlloh.

Menuliskan berbagai target merupakan langkah nyata bagi saya dalam berproses menjadi perempuan yang profesional.  

 

 

 

Tags: , , , , ,

34. Indikator Ibu Profesional

Memasuki minggu kedua di kelas matrikulasi Institut ibu Profesional, materi yang diberikan terkait bagaimana menjadi ibu yang profesional. Yuk, kita baca materi yang saya copas-kan.

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #4? Pekan ini kita akan belajar bersama:
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna:

  1. Perempuan yang telah melahirkan seseorang;
  2. Sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
  3. Panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
  4. Bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
  5. Yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna:

  1. Bersangkutan dengan profesi;
  2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;
    Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang:
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu:
1. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

2. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

3. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

4. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut:

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

 

Tags: , , , ,