RSS

Category Archives: Komunikasi Produktif

49. Game Level 1 Bunda Sayang [hari ke-2]

Memasuki hari kedua, tantangan komunikasi produktif tidaklah berjalan mulus.

“Prang … “ bunyi termometer jatuh ke lantai.

Satu-satunya termometer yang masih berfungsi akhirnya pecah, dan mengeluarkan air raksa yang terdapat di dalamnya. Sebelumnya termometer digital yang kami miliki telah rusak karena sering terjatuh dimainin Abang.

Seketika reflek keluar ucapan menyalahkan si Abang dengan nada kesal. Rasa lelah sehabis masak-masak, bercampur dengan rasa paranoid akibat kehilangan stok termometer. “Duh, kalau panas mau pakai apa ngukur suhunya?” batin saya. Ya, selama merantau saya menjadi lebih ekstra hati-hati. Bukan apa-apa, terbayang bagaimana repotnya jika anak sakit, sedangkan tidak ada keluarga yang membantu.

Hashuro langsung terdiam. Ucapan saya tersebut ternyata membuat dirinya sedih. Di saat itu saya merasa gagal. Justru hal yang sederhana dapat memicu emosi.

“Maafkan Bunda ya Bang.”

Advertisements
 

Tags: , , , ,

48. Game Level 1 Bunda Sayang [hari ke-1]

Setelah mendapatkan materi mengenai komunikasi produktif, kini saatnya untuk mengaplikasikannya. Ada rasa ragu yang muncul, “Bisa nggak ya? Apa iya akan ada perubahan kelakuan si kecil?,” dan keraguan lainnya. Maklumlah, kalau emak sudah rempong, kesalahan kecil saja bisa memancing emosi. Namun, tujuan mengikuti kelas Bunda Sayang kan supaya menjadi ibu yang lebih baik. Bismillah, terus semangat untuk berubah!

Saya mencoba mempraktekkan materi ketika ingin melarang si kecil. Caranya, bicara dengan menatap matanya sembari tersenyum.

“Bunda, Abang mau pegang gunting,” ucap Hashuro di pagi hari.

“Guntingnya buat apa?” tanya saya. Sepertinya ia sedang suka bermain dengan gunting, terinspirasi dari kegiatan prakarya di Belconnen Library.

“Gunting kertas,” jawabnya.

“Nanti ya gunting-guntingnya, bareng Bunda,” saya menjawab permintaannya sembari mencuci piring.

Apakah dilarang seperti itu sudah berhasil? Oh tentu saja tidak, hehe. Hashuro kembali meminta gunting. Ucapannya masih dengan nada lembut. Tak kehabisan akal, kali ini ia mengambil mobil-mobilannya supaya bisa meraih gunting. Untuk benda-benda berbahaya seperti gunting, obat-obatan, dan lainnya memang sengaja saya letakkan di tempat yang tinggi.

Melihat hal tersebut, langsung deh saya berhenti dulu dari kegiatan per-cuci-an. Jongkok supaya badan saya setara dengannya.

“Main guntingnya nanti ya Bang, bareng-bareng sama Bunda,” ujar saya sembari tersenyum.

“Kenapa bareng Bunda?” tanya Hashuro.

“Biar main guntingnya ditemenin Bunda,”

“Kalo nggak ditemenin, apa?” pertanyaannya mulai kritis.

“Kalo nggak ditemenin, nanti tangan Abang bisa luka,” saya mencoba menjelaskan dengan sederhana. “Nanti ya kita main gunting bareng, kalo Bunda udah selesai cuci piring.”

Bagaimana hasilnya?

Ternyata berhasil, Alhamdulillah. Hashuro bersedia menunggu. Dan setelah Bundanya selesai cuci piring, langsung deh ditagih janjinya, hehe.

Senang bangeet rasanya bisa melarang si kecil tanpa harus marah-marah. Semoga bisa konsisten mempraktekkan materi komunikasi produktif ini, aamiin.

 

 

Tags: , , , ,