RSS

Category Archives: atashi

25. Buya dan Abuya

Selain pemilihan nama untuk si dedek bayi, kamipun berdiskusi tentang sebutan apa yang cocok untuk saya dan mas. Kita mengenal sebutan ayah – ibu atau papa – mama. Beberapa tahun terakhir booming penyebutan ayah – bunda serta abi – umi. Seorang teman ada yang menggunakan istilah ipi – imi, yang konon katanya terinspirasi oleh istilah pipi – mimi milik Anang & KD. Kalau ingin mengajarkan bahasa inggris pada anakmu sejak dini, kamu bisa menggunakan sebutan dad – mom 🙂

Setelah diskusi panjang, akhirnya kami memutuskan panggilan buya – bunda. Buya? Ketika mendengar kata “buya”, apa yang terlintas dalam pikiran teman-teman? Kakek-kakek, ulama, atau bahkan Buya Hamka? Untuk menjawab rasa penasaran kalian, berikut saya copy paste-kan tulisan mas terkait pengertian “buya”.

Makna kata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Buya merupakan serapan dari bahasa Arab yang memiliki dua makna dasar, yang pertama berarti Bapak dan yang kedua berarti ulama atau kyai.

Sedangkan kalau ditilik dari bahasa Arabnya, kata Buya atau Abuya sebenarnya bukan berasal dari bahasa Fusha melainkan bahasa Darojah atau bahasa pergaulan sehari-hari.

Dalam bahasa Arab, kata dasar dari panggilan Bapak adalah “A – Bun” yang secara gramatikal apabila bertemu dengan “ya mutakallim” maka huruf akhir dari kalimat tersebut harus dibaca “kasroh”, sehingga apabila “A-Bun” bertemu “Ya Mutakallim” seharusnya dibaca menjadi “Abii” yang berarti Bapak saya. Karena salah satu fungsi dari “Ya Mutakallim” yang disandarkan pada kalimat isim adalah menunjukkan kepemilikan tunggal (dalam hal ini Bapak punya saya).

-(mencoba kembali membongkar catatan-catatan Bahasa Arab Ma’had Al-Manar)-

Sama dengan “Abii” yang berarti Bapak saya, kata “Abuya”, sebenarnya berasal dari “A-bun” yang bertemu “Ya Mutakallim”, namun bunyi “Abun” dan “Ya” dibaca dengan tanpa mengikuti kaidah nahwiyah. Panggilan ini kemudian masuk ke Indonesia, dimana ada yang mempersingkatnya menjadi “Buya” dan ada yang tetap aslinya “Abuya”.

Penggunaan

Di Indonesia, bahasa Abuya dan Buya ini menjadi kata serapan, tapi seakan-akan yang berhak dipanggil Abuya dan Buya adalah kyai atau ulama besar, padahal tidak demikian. Walaupun panggilan Buya ini sangat lekat dengan sosok ulama besar asal Sumatera Barat, yakni Alm. Buya Hamka. Namun di Sumatera Barat sendiri, guru-guru mengaji di surau-surau kecil pun biasa dipanggil dengan sebutan Buya. Selain itu di keluarga istri, panggilan Buya sebagai sapaan kekeluargaan yang berarti “Bapak” terakhir kali digunakan oleh Nenek istri saya kepada Ayahandanya.

Perlu diketahui juga, jika panggilan Buya ternyata tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang Sumatera Barat saja.

Di Kulon (Banten-red) misalnya, di tanah asal Ayah saya ini, pernah hidup seorang ulama besar yang terkenal dengan kezuhudannya, setelah menolak bantuan miliaran rupiah dari keluarga cendana. Beliau adalah alm. Abuya Dimyati, atau KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni. Konon alm. Gus Dur sendiri pernah menunggu berjam-jam hanya untuk bertemu muka dengan Beliau ini.

Selain itu, di Cirebon, tempat yang saya akui menjadi kampung halaman. Saat ini masih hidup seorang ulama ahlus sunnah lainnya, yakni KH. Yahya Zainul Maarif atau yang sering dipanggil sebagai Buya Yahya.

Jadilah panggilan Buya ini menjadi milik Bapak-bapak seluruh Nusantara…

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in atashi

 

Tags: , , , , , ,

24. Pintu Rahasia

Ada sebuah pintu kecil di hati ini, yang saat pintu kecil itu dibuka, ada banjir besar yang masuk melalui pintu itu.

Membawa suatu hadiah yang mewakili semua keindahan yang ada di bumi dan di langit.

Pintu itu adalah ikhlas, dan kuncinya kepasrahan serta tawakkal pada NYA.

(mas PRF, Oktober 2012)

Tulisan di atas saya copas dari status seseorang yang tidak menyadari status-status Facebook-nya senantiasa saya kepoin 😀

 
Leave a comment

Posted by on September 14, 2015 in atashi

 

Tags: ,

23. Finally, It’s You :)

Hai semua.

Lama tidak menengok blog ini, lebih dari 3 tahun. Woow. Pastinya dalam waktu 3 tahun itu sudah banyak kejadian yang terjadi. Setelah vakum lama, postingan saya kali ini adalah tentang pertemuan jodoh. Yup, urusan yang satu ini merupakan hal misterius selain hidup, mati, dan rezeki. Dan tentu saja selalu menarik untuk membahasnya 🙂

Sewaktu kuliah, saya berkeinginan untuk segera menikah. Inginnya sih mengikuti jejak mama yang menikah di usia 20-an. Jadi dulu tuh ya, sudah berangan-angan ingin menikah di usia 24 tahun. Lulus kuliah, lalu selang 2 tahun kemudian menikah. Manusia hanya bisa bermimpi dan membuat harapan. Sementara ALLOH-lah Sang Penentu jalan kehidupan. Waktu berselang tetapi lelaki yang dinanti tak kunjung tiba. Usaha? Tidak perlu ditanya lagi. Selain berdo’a, juga meminta dicarikan calon suami ke saudara-saudara hingga teman kantor. Saya merupakan tipe gadis pemalu [cieee…], jadi tidak ada dalam pikiran untuk mengajak ta’aruf terlebih dahulu. Usia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Lelaki yang diperkenalkan kepada saya pun silih berganti. Dari beberapa lelaki itu tidakkah ada yang cocok? Sayangnya, belum ada rasa klik di hati ini. Sayapun telah menyiapkan diri untuk menerima berbagai kekurangan si lelaki yang nantinya berjodoh dengan saya, meskipun ia tidak sesuai dengan kriteria pria idaman yang saya impikan. Toh manusia tidak ada yang sempurna. Ternyata skenario ALLOH berkehendak lain. ALLOH menjauhkan lelaki-lelaki tersebut [Alhamdulillah…]. Pernah pula terlintas pikiran ekstrem, jika tidak dipertemukan di dunia, mungkin saya akan dipertemukan dengan jodoh saya di akhirat. Sampai segitunya yah? Well, yeah it’s true  😀

PROSES ITU BERNAMA TA’ARUF

Saya percaya bahwa cara terbaik pasti akan memberikan hasil yang terbaik juga. Sebisa mungkin saya menghindari yang namanya pacaran. Kamu-kamu bisa menyebut saya kolot atau kuper, tapi saya bangga tidak pernah berpacaran. Cinta sejati selayaknya diberikan kepada lelaki yang telah sah menjadi suami. Tidak untuk diobral kepada pacar yang belum tentu akan menjadi suami. Hal penting dalam ta’aruf adalah adanya orang terpercaya yang bisa menjamin kalau calon yang dikenalkan merupakan orang yang baik. Jadi ta’aruf bukan hanya asal berkenalan dan bertukar biodata/CV lalu lanjut menikah. Tidak, tidak seperti itu. Ada bentuk kehati-hatian diri dan rasa kepasrahan kepada ALLOH selama proses ta’aruf. Sebagai bentuk kehati-hatian diri, selain bertukar biodata lengkap [ini harus detail dan jujur lhoh yaa], sebisa mungkin di tahap awal ini kita juga menggali segala informasi tentang lelaki/wanita tersebut. Bisa dari media sosial [saya sampai stalking-in akun FB si mas, hehe], teman kantornya, bahkan bertanya pada saudara-saudaranya. Kalau perlu, datangi kantor tempat ia bekerja untuk memastikan apakah ia benar-benar karyawan di kantor tersebut. Kemudian sebagai bentuk kepasrahan diri kepada ALLOH, kita senantiasa berdo’a [kalau perlu perbanyak sholat tahajjud] agar diberikan petunjuk apakah si dia merupakan jodoh terbaik. Kalau kamu bertanya, petunjuk seperti apa yang saya dapatkan? Berupa mimpikah? Saya sih tidak ada mimpi apa-apa, hehe. Kemudahan di setiap langkah yang kami lalui menuju pernikahan saya anggap sebagai petunjuk dari ALLOH.

DARI CV TURUN KE HATI

Awal bulan Ramadhan tahun 2012 teman kantor menawarkan untuk mengenalkan teman suaminya kepada saya. Proses diawali dengan sang lelaki mengirimkan biodata lengkapnya kepada saya, tak lupa di-cc-kan juga ke teman saya itu selaku mediator. Yup, perlu ada pihak ketiga dalam proses ta’aruf. Panik? Iya, panik banget. Apalagi biodata yang dia berikan sangat detail hingga 15 halaman, disertai testimoni teman-teman dekatnya. Saya yang jadi kebingungan harus menulis apa saja. Setelah saling berkirim CV, kami diberi waktu untuk mempertimbangkan apakah proses akan dilanjutkan dengan pertemuan langsung. Singkat cerita, disepakati setelah lebaran kami akan bertemu untuk saling melihat penampilan fisik dan juga bertanya berbagai hal yang ingin ditanyakan. Oh iya, hingga tahap ini sang mediator masih setia menemani kami. Pertemuan langsung harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bertanya terhadap sang calon. Pertanyaannya bebas, mulai dari visi misi pernikahan hingga pendapat terhadap wanita yang bekerja. Ingin bertanya hobi, hal yang tidak disukai, kebiasaan buruk, atau bahkan politik negara pun boleh. Lagi-lagi saya terserang sindrom panik. Alhasil saya justru lebih banyak mengobrol dengan si mediator  😀

Setelah pertemuan yang menegangkan itu, kami diberi waktu untuk berpikir dan menyampaikan hasil pertemuan ke keluarga masing-masing. Jika masing-masing pihak setuju, maka proses akan berlanjut dengan sang lelaki datang berkunjung ke rumah saya. Tak disangka, lelaki tersebut kemudian datang ke rumah seorang diri, menyampaikan maksud kedatangannya untuk meng-khitbah saya. Dag-dig-dug dor!

Sungguh proses yang cepat dan mudah. Alhamdulillah 🙂

Yang ingin saya bagi pada kamu-kamu semua adalah jangan pernah berputus asa. Senantiasa berdo’a dan meminta kepada ALLOH agar segera dipertemukan dengan jodoh terbaik. Dan selama masa penantian itu isilah dengan cara memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu isi waktu luang dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya dengan mengikuti berbagai kajian islami. Selain itu tidak perlu malu untuk meminta dicarikan calon pendamping pada saudara atau teman.

Menunggu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan. Terlebih jika dalam masa menanti itu kita selalu direcoki dengan pertanyaan “kapan?”. Namun, yakinlah ALLOH pasti punya skenario terbaik untuk kamu 🙂

 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2015 in atashi, Indahnya Islam

 

Tags: , ,

22. Kadang,,

Spiritualitas kita seperti laut,

kadang pasang kadang surut.

Jiwa kita seperti langit,

kadang cerah kadang mendung.

 

Pengetahuan kita seperti kaca,

kadang jernih kadang buram.

Sumber: Majalah Tarbawi edisi 276 (31 Mei 2012)

 
Leave a comment

Posted by on August 12, 2012 in atashi

 

Tags:

17. Hello!

Hello WordPress, I’m back!

Maaf yaa, saya sempat vakum beberapa tahun dari dunia per-blog-an Indonesia. Maklum, sibuk dengan pekerjaan -> alasan klise [senyum lebar].

Alhamdulillah, hari-hari saya selama 3 tahun terakhir ini sangat indah. Skenario ALLOH memang sungguh teramat indah bagi orang-orang yang bisa mengambil hikmah. Siapa sangka, di tahun 2009 saya mutasi ke Jakarta, kota tercinta. Dan saat ini, Alhamdulillah lagi, saya diberi kesempatan untuk bekerja sambil belajar di bagian National Accounts. Unpredictable life, isn’t it?

Oleh karena haluan saya berubah, dari “teknisi lapangan” menjadi “teknisi di depan komputer” yang harus berjibaku dengan System of National Account, maka posting mengenai kegiatan PPLS’08 pasca lebaran tidak bisa diteruskan. Maaf yaa ^_^

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah sesuatu itu (QS. Yaasin: 82).

Bagi kamu-kamu yang saat ini sedang meraih impian, jangan putus asa dan menyerah ya, karena tidak ada yang tidak mungkin bagi ALLOH. Oleh sebab itu tetaplah semangat berusaha, dan jangan pernah bosan untuk berdo’a. Oh iya, mintalah restu orang tua, karena ridho orang tua merupakan ridhonya ALLOH. -> untuk yang satu ini saya sudah membuktikannya!

Ini ceritaku, bagaimana ceritamu? 🙂

 
2 Comments

Posted by on December 6, 2011 in atashi

 

13. Painan in crisis!!

whoaaa,,,,

Painan saat ini sdg mngaLami muLti krisis,, muLai dari krisis Listrik [ bayangin aja, tiap 3 jam listrik mati,, hidupnyapun jg dijatah 3 jam,,], trus krisis air [air PAM di Painan smpt tdk mengaLir ke rmh2 warga krg Lebih 24 jam,, bikin tambah puyeng,,], dan skrg sinyal IM3pun ikut2an menghilang [waduh, g bisa sms2, teLp2an, atw browsing nih, hikss]

 
3 Comments

Posted by on August 16, 2008 in atashi

 

Tags: ,

11. Painanku sayang ^_^

TinggaL jauh dari orangtua dan jauh dari Lingkungan dimana aku besar, ternyata ga seburuk yang aku kira,, Ternyata SERU Lho tinggaL di kabupaten, apaLagi di Kabupaten Pesisir SeLatan [baca : Painan],, kLo dibandingin sama Jakarta, pastinya jauh beda,, Tapi, ambiL sisi2 positifnya aja!

SaLah satu keLebihan yang dimiLiki kabupaten ini adaLah pemandangan yang indah,, Kota ini dikeLiLingi oLeh bukit dan pantai,, So pasti viewnya bagus banget! ApaLagi kLo pagi hari,, Wuihh, udaranya masih fresh ^_^

Oia, kabupaten ini punya banyak objek wisata, ada Pantai Carocok, Bukit Langkisau, Jembatan Akar, dan Lain sbagainya, [promosi dikit ah,, itung2 untuk memajukan pariwisata daerah ^_^]

[asiikk,, nisa akan sering jaLan2 niy, heuheu]

Nah, karena suasana kota disini masih hijau, pas banget buat refreshing mata,, sejauh mata memandang di sepanjang jaLan terdapat pohon2 nan rindang, ada juga sawah2 yang muLai menguning karena sekarang udah memasuki musim panen,, Adem deh buat mata, ga sumpek ngeLiat rumah2 yang padat atau kios2 kaki Lima yang bikin macet jaLanan,, Tambahan, di kota ini banyak dijuaL rimbang a.k.a tekoka’, [apaan tuh?],, Bagi yang bLm tau, sayuran yang bentuknya mirip kacang poLong ini bagus untuk kamu2 yang berkacamata,,

[makin seneng nih nisa tinggaL di sini ^_^]

HaL unik yang ga bakaL ditemui di Jakarta adaLah hewan ternak yang berkeLiaran dengan bebas,, Hari2 pertama dateng ke sini aku sempat heran, koq kambing dan sapi diLepas gitu aja ya, emang si pemiLik ternak ga khawatir ternak2nya hiLang dicuri orang? Ternyata eh ternyataa, kebudayaan di sini emang gitu,, Keren yak, masyarakat di sini punya tingkat kesadaran yang tinggi,, ImpLikasinya adaLah tingkat kriminaLitas di sini cukup rendah,, [waLopun begitu, kita tetap harus seLaLu waspada; tidak berpenampiLan mencoLok, yang wajar2 aja,,],, Bisa dibiLang hidup di kota dengan nuansa pedesaan ^_^

KeLebihan Lainnya adaLah bertebarannya makanan2 favorit aku di sini, muLai dari sate padang, Lontong guLai sayur pakis, ketan durian, Lamang tape, bubur kampiun, dan Lain2,, Hmm, yummi yummi,,

[waduw, makin chubby aja niy pipiku, heuheu,,]

HaL Lain yang ga ketinggaLan untuk disebutkan adaLah teman2 yang asik pLus bapak2 ibu2 rekan kerja yang baik,, IniLah faktor utama yang membuat nisa betah jauh dari keLuarga,, Ga kebayang deh kLo hidup jauh dari keLuarga dan sahabat2, eh trus ga nemu teman yang enak untuk diajak ngobroL dan curhat,,

Smangat Nis! SeLaLu percaya kLo penempatan di sini merupakan yang terbaik yang diberikan ALLAH untukku ^_^

 
1 Comment

Posted by on July 18, 2008 in atashi