RSS

49. Game Level 1 Bunda Sayang [hari ke-2]

09 Nov

Memasuki hari kedua, tantangan komunikasi produktif tidaklah berjalan mulus.

“Prang … “ bunyi termometer jatuh ke lantai.

Satu-satunya termometer yang masih berfungsi akhirnya pecah, dan mengeluarkan air raksa yang terdapat di dalamnya. Sebelumnya termometer digital yang kami miliki telah rusak karena sering terjatuh dimainin Abang.

Seketika reflek keluar ucapan menyalahkan si Abang dengan nada kesal. Rasa lelah sehabis masak-masak, bercampur dengan rasa paranoid akibat kehilangan stok termometer. “Duh, kalau panas mau pakai apa ngukur suhunya?” batin saya. Ya, selama merantau saya menjadi lebih ekstra hati-hati. Bukan apa-apa, terbayang bagaimana repotnya jika anak sakit, sedangkan tidak ada keluarga yang membantu.

Hashuro langsung terdiam. Ucapan saya tersebut ternyata membuat dirinya sedih. Di saat itu saya merasa gagal. Justru hal yang sederhana dapat memicu emosi.

“Maafkan Bunda ya Bang.”

Advertisements
 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: