RSS

Monthly Archives: May 2017

35. Nice Homework #2

Deg-degan.

Ya, begitulah rasanya ketika akan mendapatkan tugas mingguan di kelas matrikulasi. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mampu membuat otak berpikir. Dan sepertinya semakin susah dibanding minggu kemarin, hehe. Tugas minggu ini adalah peserta diharapkan membuat indikator apa saja agar mampu menjadi perempuan yang profesional. Nah, karena perempuan mempunyai tiga peran sekaligus, yakni sebagai individu, istri, dan ibu, maka ketiganya harus dibuatkan indikator-indikatornya.

Peserta mendapatkan guideline dalam pembuatan indikator, yakni SMART.

Specific: unik/detail

Measurable: terukur, misalnya dalam 1 bulan 4 kali menulis blog

Achiveable: bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah

Realistic: berhubungan dengan kondisi sehari-hari

Timebond: berikan batas waktu

Mirip-mirip lah ya dengan target/resolusi, yang kebetulan saya sudah membuatnya di awal tahun. Yeay, bisa copy-paste, hehe. Hanya yang belum adalah target menjadi istri yang baik. Duh jadi malu, hal ini bisa tidak terpikirkan pada saat membuat resolusi tahunan. Untuk mengisi indikator istri profesional, man-teman bisa memberikan pertanyaan ke suami: istri seperti apa yang bisa membuat suami bahagia. Sebelum suami menuliskan indikator-indikatornya, di awal saya sudah memberi warning “yang pasti jangan masak 3 kali sehari” 😀

Sebagai Individu

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Umum Membuat rencana aktivitas mingguan 1x / minggu
2 Kesehatan jasmani Makan buah & sayur serta minum susu Setiap hari
Olahraga; jalan kaki / senam 1x / minggu
3 Up-grade ilmu akhirat Menambah hapalan al-qur’an 1 ayat / hari
Mengikuti kajian pekanan 1x / minggu
Membaca kitab-kitab ulama 1x / 3 bulan
4 Up-grade ilmu dunia Kuliah S-2 1x
Mengikuti training/ seminar/ workshop 1x / 3 bulan

 

Sebagai Istri

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Keuangan Menyusun budget bulanan dengan rincian:

a.       ZIS : 2,5 – 5%

b.      Investasi : 20%

c.       Tabungan : 10%

d.      Cicilan hutang : 20 – 30%

e.      Pengeluaran : 35%

1x / bulan

(satu minggu sebelum bulan baru)

Menyusun evaluasi keuangan 2x / tahun
2 Silaturrahim dengan keluarga Menelepon orang tua & mertua 1x / minggu
Mengunjungi orang tua & mertua 1x / 2 minggu
Mengunjungi kerabat suami 2x / tahun
3 Memuliakan tamu Menyuguhkan hidangan 5 menit setelah kedatangan tamu

 

Sebagai Ibu

No. Sasaran Strategis Indikator Waktu
1 Umum Membuat rencana aktivitas mingguan dengan anak 1x / minggu
2 Menjadi guru dan teladan yang baik bagi anak-anak Mengajarkan, mengajak & mendampingi anak membaca al-qur’an 1x / hari
Mengajarkan, mengajak & mendampingi anak tentang tata cara ibadah 1x / minggu
Mendampingi, mendengarkan, & memberi pengertian pada tontonan anak, serta kegiatan anak di sekolah Setiap hari

Inilah indikator versi saya setelah berdiskusi dengan suami. Kegiatan harian yang lebih rinci akan dibuat di rencana aktivitas mingguan, misalnya target membaca al-qur’an dalam sehari ¼ juz, membacakan buku anak setiap hari, dan lain sebagainya.

InsyaAlloh.

Menuliskan berbagai target merupakan langkah nyata bagi saya dalam berproses menjadi perempuan yang profesional.  

 

 

Advertisements
 

Tags: , , , , ,

34. Indikator Ibu Profesional

Memasuki minggu kedua di kelas matrikulasi Institut ibu Profesional, materi yang diberikan terkait bagaimana menjadi ibu yang profesional. Yuk, kita baca materi yang saya copas-kan.

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #4? Pekan ini kita akan belajar bersama:
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna:

  1. Perempuan yang telah melahirkan seseorang;
  2. Sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;
  3. Panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum;
  4. Bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari;
  5. Yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna:

  1. Bersangkutan dengan profesi;
  2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;
    Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang:
  • Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
  • Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu:
1. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

2. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

3. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

4. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sebagai berikut:

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

 

Tags: , , , ,

33. Aliran Rasa NHW #1

Selain mengerjakan tugas mingguan yang disebut dengan Nice Homework (NHW), peserta matrikulasi juga diberikan tugas membuat tulisan yang isinya kesan yang didapat selama pengerjaan NHW. Tulisan tersebut dinamai “Aliran Rasa”. Ternyata tugas kelas matrikulasi lumayan banyak juga ya, hehe. Karena sudah berkomitmen mengikuti komunitas Ibu Profesional, maka harus bertanggungjawab mengerjakan setiap tugas yang diberikan.

Terkait NHW #1, sejujurnya saya terkejut dengan pertanyaannya. Mungkin ada yang beranggapan jika pertanyaan tersebut adalah hal sepele. Namun justru kesederhaan pertanyaan tersebut mampu membangkitkan rasa penasaran terhadap pencarian jati diri. Tentu pemaknaan dari pertanyaan NHW tiap orang berbeda. Bagi saya, cakupan universitas kehidupan ini sangatlah luas. Tak sebatas menjadi seorang ibu saja. Sebagai seseorang yang telah menikah dan memiliki anak, maka saya mempunyai peran sebagai istri dan ibu, untuk itu saya perlu membekali diri dengan ilmu pernikahan dan ilmu parenting. Sebagai pekerja, saya berperan sebagai statistisi, karenanya saya perlu memperdalam ilmu terkait statistik dan ekonomi.  Sebagai individu yang memiliki passion, saya memperdalam ilmu terkait masak-memasak dan menulis. Namun, sebagai manusia, saya mempunyai peran sebagai seorang muslim.

Sejalan dengan review NHW #1 yang akan saya tuliskan di bawah, akhirnya saya menyadari bahwa peran saya di muka bumi ini adalah sebagai muslim yang senantiasa berkewajiban untuk menyampaikan tentang kebaikan Islam kepada komunitas di sekitar saya. Kegiatan dakwah ini tak hanya tugas para ulama, tetapi setiap muslim, sesuai kemampuan dan kapasitas diri masing-masing.

Dalam Al-Qur’an, Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyebut bahwa muslim yang beruntung adalah yang mengajak orang lain kepada kebaikan, sebagaimana tertulis dalam surat Ali ‘Imran ayat 104: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Mau menjadi muslim yang beruntung kan? 🙂

—–

Review NHW #1

ADAB SEBELUM ILMU

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #4?

Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline.

Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas  kehidupan, tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”.

INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN, AND EXPECTING DIFFERENT RESULT – Albert Einstein

Setelah kami cermati, ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini  biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu ”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#4 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review,  setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.

Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini:

MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI.

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/ kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,

SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU.

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.

Tetapi di  Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015

Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #4, 2017

Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #4, 2017

—–

Hal menarik dari review tersebut adalah kita harus fokus terhadap ilmu yang memang ingin kita dalami. Ternyata tidak semua ilmu perlu kita kuasai, apalagi ilmu yang tak selaras dengan pilihan ilmu di universitas kehidupan. Nasihat ini mengena banget ke saya, karena saya mudah terpengaruh lingkungan sekitar, serta menganggap saya bisa melakukan banyak hal di satu waktu. Misalnya, kerja kantoran iya, lalu berjualan baju online pun iya, ditambah mengikuti kursus memasak pun iya. Banyak maunya ya, hehehe.

Alhamdulilah, dengan NHW #1 saya belajar untuk fokus terhadap apa yang ingin saya lakukan. Meskipun saya memiliki banyak passion, tapi mulai dipilah mana yang mendukung dan mana yang tidak terlalu mendukung terhadap ilmu pilihan di universitas kehidupan ini.

Yuk para ibu, mari kita fokus, dan berani berkata “menarik, tapi tidak tertarik” pada godaan ilmu yang tak sejalan. Bismillah.

 

Tags: , , , ,

32. Nice Homework #1

Setelah menerima materi dan mempelajarinya, maka kami sebagai peserta kelas matrikulasi akan diberikan tugas yang harus dikerjakan dan dikumpulkan sebelum materi berikutnya diberikan. Kira-kira hampir seminggu waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Haruskah setiap peserta mengerjakan tugas-tugasnya? Iya, wajib hukumnya supaya bisa lulus kelas matrikulasi dan naik ke level berikutnya.

Terkait materi “Adab Menuntut Ilmu”, berikut pertanyaan yang harus saya jawab:

  1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini. Karena diminta hanya satu, berarti suatu ilmu yang menurut saya paling penting. Sementara banyak hal yang saya suka dan ingin dipelajari, antara lain ilmu ekonomi, masak-memasak, menulis, dan parenting. Namun ilmu yang paling mendasar bagi saya untuk senantiasa dipelajari adalah ilmu agama.
  2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.  Hal pertama yang terlintas di pikiran dalam memilih suatu ilmu tentulah rasa suka dan bahagia ketika mempelajari ilmu tersebut. Tidak ada tekanan, justru yang muncul adalah rasa semangat. Setiap saya pulang dari menghadiri ceraham/ pengajian/ halaqoh, pikiran saya menjadi lebih jernih. Yang awalnya berangkat ke pengajian dengan bad mood, seketika mood saya membaik. Mungkin alasan saya terdengar silly, tetapi ini yang menjadi dasar saya memilih ilmu tersebut. Selain itu, dengan mempelajari ilmu agama, saya ingin menjadi guru dan tempat bertanya pertama bagi anak-anak saya terkait hal keagamaan. Untuk mendidik anak-anak menjadi sholih dan sholihah tentulah butuh figur orang tua yang memberikan contoh riil bagaimana penerapan ilmu agama dalam keseharian hidup.
  1. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
  • Meminta izin dan dukungan suami.
  • Rutin menghadiri pengajian dan halaqoh setiap minggu.
  • Membaca aneka buku terkait ilmu agama.
  • Menonton video ceramah berbagai ustadz/ulama yang ada di youtube.
  • Follow berbagai akun facebook yang menambah wawasan tentang islam.
  • Membaca artikel di website yang dikelola oleh ustadz/ulama.

InsyaAlloh.

  1. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
  • Bersungguh-sungguh dan fokus. Saya tipe orang yang mudah merasa bosan terhadap satu hal, seringnya suka melakukan banyak hal di satu waktu sehingga menjadi tidak fokus. Hal tersebut harus saya ubah dan senantiasa berkomitmen terhadap niat awal.
  • Berusaha on-time ketika menghadiri pengajian dan halaqoh. Ini yang jadi PR besar bagi saya, karena sering terlambat datang sehingga tidak mendengarkan secara utuh materi yang disampaikan.
  • Membuka pikiran ketika suatu materi disampaikan. Saya akan berusaha untuk tidak merasa sudah lebih paham dari peserta yang lain, Meskipun sebelumnya sudah pernah mendapatkan materi tersebut.

Empat pertanyaan di materi pertama saja sudah membuat saya merenung lama, “Apa sih yang ingin saya pelajari dalam hidup ini? Apakah bermanfaat? Lantas bermanfaat untuk siapa saja?”. Karena hakikatnya tidak ada jawaban yang benar ataupun salah untuk keempat pertanyaan di atas, maka tiap peserta bebas mengekspresikan pikirannya. Cukup luangkan waktu sebentar, tenangkan pikiran, tanya pada diri sendiri dan jawablah dengan jujur.

“Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia” – Institut Ibu Profesional

 

Tags: , , ,

31. Menjadi Ibu yang Profesional

IIP? Institut Ibu Profesional?

Sebelumnya tak pernah kenal dengan komunitas tersebut. Baru kemudian teman halaqoh bercerita bahwa ia mengikuti kelas di IIP. Dari penjelasan singkatnya, sepertinya materi-materi yang diperoleh sangatlah menarik. Terutama bagi saya yang masih belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Dengan kesungguhan niat dan izin dari suami, maka terdaftarlah saya di kelas matrikulasi batch #4. Sempat bingung, apakah ikut grup regional DKI Jakarta? Tetapi sementara ini saya menetap di Canberra. Atas saran adik saya yang mengatakan bahwa kelas matrikulasi hanya tiga bulan, maka saya memutuskan untuk ikut grup luar negeri. Dan ternyata, saya bisa berkenalan dengan ibu dan calon ibu yang tinggal di berbagai benua. Alhamdulillah 🙂

Agar saya mudah membacanya di kemudian hari, maka saya copas-kan materinya di blog. Materi pertama dari kelas matrikulasi adalah “Adab Menuntut Ilmu”. Yuk kita baca bersama 🙂

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 15 Mei 2017

Disusun oleh Tim Matrikulasi – Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU.

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horizontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan.
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya.

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5.

Muhammad bin Sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015.

 

Tags: ,