RSS

Monthly Archives: May 2016

29. Dinda

Dinda…

Sungguh aku tak pernah bisa mengira,

Akan ada suatu titik dimana kisah ini berasal-bermula.

Ketika dua hati saling bersinggungan,

Meski tak pernah didahului saling perkenalan.

 

Lantas segalanya mengalir seperti air,

Menemukan jalannya dari hulu menuju ke hilir.

Lewat kata yang merangkai titik dan koma,

Lantas membentuk alur nan memesona.

 

Ah Dinda…

Sungguh tak ada yang mengerti tentang jalan yang menjejak di hadapan,

Kita seperti tengah menyibak tirai misteri yang Tuhan ciptakan.

Agar kita berlari atau bersinggah sejenak,

Mengatur nafas lantas kembali bergegas beranjak.

 

Berkejaran dengan waktu yang memangsa jarak antara kita,

Sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa…

 

Ketika sepasang insan yang kepaknya tak pernah beriringan,

Telah menemukan tambatan jiwa yang mengisi setiap kekosongan.

Ketika yang separuh akan tergenapkan,

Dan tulang rusuk yang hilang telah ditemukan.

 

Meski mulanya ada gundah yang membuncah.

Ada pula ragu yang menyaru.

Lalu menjelma ia menjadi rindu yang mengharu.

 

Maka berserahlah hati ini pada Penggenggamnya.

Agar sirna segala prasangka.

Agar musnah segala gundah.

Hingga berpasrah pada kehendak-Nya.

 

Dinda…

Betapa akan selalu ada hal yang memesonakan dalam kehidupan,

Namun acapkali ia tak dapat dijelaskan dengan penalaran.

Maka biarkan saja ia menyisakan sebuah kenangan manis di hatimu,

Termasuk ketika kita membincangkan pertemuan dua hati, kau dan aku…

 

Ketika kata-kata sudah kehilangan maknanya,

Kita pun hanya mampu menyisakan sebuah tanya…

“Mengapa sepasang mata yang tak pernah bersua, bisa saling jatuh dan mencinta?”

Aku menatap matamu, mencoba menyusuri setiap jejak yang menunjukkan jawabannya.

 

Ah, masih ingatkah kau Dinda?

Pada suatu pagi yang tak pernah bisa ku lupa…

Saat pertama kita berjumpa, lalu kita hanya bisa terdiam kehilangan kata

Dalam dimensi sunyi kita hanya mampu tersipu menggumamkan rasa.

Sungguh tidak ada yang kebutulan di sisi Alloh”, begitu kataku dulu…

 

Bahkan jatuhnya rinai hujan hingga gugurnya dedaunan,

Tumbuhnya kecambah dan hembusan angin dari sesudut lautan.

Semuanya telah tercatat dan terperhitungkan.

 

Apatah lagi risalah dua hati,

Ia hanya bisa dimengerti oleh bahasa batin yang bernama ketentraman,

Ia hanya bisa diuraikan oleh jiwa yang telah terpasang-pasangkan.

 

Jiwa yang telah dipasangkan oleh Tuhannya dengan cara seksama,

Tanpa sempat kita tahu detail ceritanya.

Bisa jadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,

Layaknya proklamsi republik ini katanya.

Atau dalam rupa perlahan-lahan seperti benih yang berkecambah di hamparan dunia.

 

Ah Dinda…

Aku seolah terlupa

Bukankah cinta tak sekedar memandang wajah, tapi ia juga menjenguk hati?

Bukankah cinta tak sekedar menggenggam tangan, tapi ia juga merengkuh jiwa?

Bukankah cinta tak sekedar mengagumi kelebihan, tapi ia juga membersamai setiap kekurangan?

 

Lalu kau pun tersenyum, mengulum ketersipuan dalam hatimu.

Dan aku pun hanya bisa merona,

Karena ku tahu, itulah jawaban cintamu yang paling sederhana.

 

Maka ketika sepasang tangan mulai bergenggam atas nama Tuhan,

Dalam sebuah akad yang akan menggetarkan arsy Yang Agung.

 

Disaat itulah kau izinkan aku tuk melabuhkan hati ini di tepian pantai cintamu.

Dan ketika itulah kau pilihkan bahuku untuk tempat bersandar letihmu.

Lantas kau akan mulai berceloteh tentang segala mimpi dan citamu.

Dan aku akan selalu berusaha untuk menjadi pendengar setiamu.

 

Dinda…

Maka dalam setiap mimpi dan cita

Akan ada sebuah janji yang menuntut pembuktiannya

Dalam kelindan ribuan kompromi, kita pun akan tiba pada satu masa yang niscaya

 

Tatkala kita harus memilih dan berlari.

Ingin berbalik arah, lantas menjadi seorang pemimpi.

Ataukah kita memilih jalan menempuh pergi.

Lalu menunaikan amanah yang tak pernah mau dipikul langit dan bumi.

 

Maka, untuk seribu langkah yang akan tertempuh lalu

Untuk setiap takdir yang akan menggurat tergaris

Dan untuk sejuta warna hidup yang melukis cerita penuh berharap

Aku kan selalu membutuhkan hadirmu di sisiku, Dindaku…

 

Dalam rupa do’a yang kan kau panjatkan hingga ke atas arasy Yang Agung

Dalam wujud dukungan cintamu yang elok dan menentramkan

Bahkan dalam bahasa tegur dan nasihat yang kukuh menghujam

Aku akan slalu merindukannya dan menyalinnya dalam lembaran-lembaran hatiku…

 

Jakarta,  4 Januari 2013

Di tengah taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu

(Raudhoh al-muhibbin wa nudzhoh al musytaqiin)

=====

Kelanjutan posting sebelumnya, inilah puisi karya si mas yang kami niatkan untuk dilampirkan di undangan pernikahan. Namun apa daya niatan itu batal, panjang banget euy 😀

Note:

Harap cantumkan link blog ini ketika kamu menggunakan keseluruhan puisi atau sebagian puisi tersebut.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2016 in atashi,,, pernikahan, Romantis

 

Tags: , , , ,

28. Today is the Day

Postingan sebelumnya sudah membahas proses ta’aruf dan puisi cinta. Tak lengkap rasanya jika tidak menuliskan rangkaian menuju hari H – the wedding itself. Meskipun sudah berselang 3 tahun, tapi gapapa ya, hehehe.

MENENTUKAN TANGGAL PERNIKAHAN

Semua hari dan tanggal adalah baik. Dalam Islam tak ada tuntunan harus menikah di hari tertentu atau di bulan tertentu. Maka, sah-sah saja jika ada yang menikah di bulan Ramadhan. Kamu semua tidak perlu repot menghitung weton dan sejenisnya. Percayalah, langgeng tidaknya suatu pernikahan bukan ditentukan dari tanggal pernikahan, tetapi dari sikap kita dalam menjalani pernikahan. Kalau menurut saya, tanggal pernikahan yang baik adalah di hari libur dan pada awal bulan, hehe.

MENCARI LOKASI (VENUE)

Karena kami hanya punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkan pernikahan, jadi urusan mencari lokasi yang pas untuk akad nikah dan resepsi merupakan keribetan tersendiri. Keliling ibukota, mulai dari lokasi dekat rumah hingga ke Taman Mini, sangatlah menyita waktu. Kenapa tidak mengadakan acara di rumah saja? Mengadakan acara di rumah memang dari awal kami coret dari list venue. Pertimbangannya sih biar tidak terlalu merepotkan pihak keluarga. Kebayang kan bagaimana repotnya mendekor rumah, masak-memasak, hingga bersih-bersih setelah acara selesai. Belum lagi masalah parkiran kendaraan dan kebisingan yang akan mengganggu tetangga sekitar. Duuh, nggak pengen ribet deh. Akhirnya pilihan jatuh pada gedung Cawang Kencana untuk acara resepsi. Sedangkan utuk akad nikah dilaksanakan di masjid terdekat yakni Masjid ASABRI. Overall puas dengan ballroom Cawang Kencana. Ruangannya luas dan full karpet [monggo high heels-nya dipakai, tidak perlu khawatir kepleset lantai licin] 😀

MEMILIH KATERING & PERIAS

Setiap mengunjungi gedung untuk mencari tempat resepsi, pasti saya mengambil brosur katering yang bekerja sama dengan gedung tersebut. Setelah cek dan banding ini-itu, telepon sana-sini, dan icip-icip makanannya, akhirnya pilihan jatuh pada Daffa Catering. Makanannya lumayan enak dan porsi yang disediakan cukup banyak, sehingga di hari H para tamu tidak kekurangan makanan. Untuk rias pengantin, pilihannya adalah Komala Hadi. Suka banget dengan hasil riasan mba Yayang – si empunya Komala Hadi. Simple, minimalis alias ga menor, dan cantik. Syar’i-nya teteup dong harus dijaga. Maksudnya jilbab menutup dada, baju tidak ketat, tidak cukur alis dan tidak pakai bulu mata palsu. Silahkan man-teman browsing dalil-dalil terkait haramnya mencukur alis dan pemakaian bulu mata palsu. Pemilihan katering dan perias sudah disesuaikan dengan budget. Pertimbangan kami, kalau perbedaannya tidak signifikan ya pilih saja yang lebih murah. Toh cuma untuk acara 1 hari saja. Lebih baik uangnya dipakai untuk membeli perabot rumah 🙂

MENCETAK UNDANGAN

Alhamdulillah urusan cetak-mencetak undangan telah di-handle oleh Uncu [artinya paman dalam bahasa Minang]. Selain undangan yang dicetak, si mas juga membuat undangan via web. Saya lupa alamat web-nya. Web gratis koq, hehe. Ada cerita tersendiri dalam urusan membuat undangan ini. Si mas kan jago membuat puisi, jadi saya meminta dia untuk membuatkan puisi yang nantinya akan dicantumkan di undangan kami. Ternyataa, puisi yang dibuat sangat panjang, kalau dilampirkan di undangan tentu menghabiskan banyak kertas. Karena niatnya ingin irit maka puisi tersebut tidak jadi di-publish di undangan. Namun akan saya tampilkan di blog ini.

MENCARI SOUVENIR

Ada beberapa pusat berbelanja souvenir pernikahan di Jakarta, antaranya Jatinegara dan Asemka. Saya kurang tahu perbandingan harga antara kedua tempat tersebut. Menurut saya sih tidak terlalu berbeda jauh. Jenis souvenir yang tersedia sangatlah banyak. Silahkan kamu datangi beberapa toko untuk melihat keberagamannya. Prinsip pemilihan souvenir adalah sesuaikan dengan budget pernikahan. Selain itu asas manfaat juga jadi pertimbangan. Sangat sayang kan kalau souvenir yang kita berikan kepada tamu undangan menjadi sia-sia tak terpakai.

Tebet-20130120-00882.jpg

Alhamdulillah rangkaian acara pernikahan, mulai dari akad nikah hingga resepsi pernikahan berjalan lancar. Untuk kamu yang sedang menyiapkan acara pernikahan, semoga semuanya lancar jaya ya. Dan semoga pernikahan kalian senantiasa penuh keberkahan dari ALLOH 🙂

 
Leave a comment

Posted by on May 25, 2016 in atashi,,, pernikahan

 

Tags: , , , , ,