RSS

Monthly Archives: November 2015

26. Shopping Guide

Duilee, pemandu belanja?

Yup, secara tak sengaja saya dan teman satu ruangan dimintai tolong untuk menemani para peserta workshop berbelanja. Workshop yang diselenggarakan oleh ADB (Asian Development Bank) di Jakarta ini membahas Supply and Use Table (SUT). Pesertanya berasal dari berbagai negara di Asia, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, India, Srilanka, dan tentunya Indonesia.

Belum terbayang bagaimana saya akan memandu para bule ini berbelanja. Pastinya saya harus menerjemahkan bahasa si pedagang dan para bule. Hal unik yang selanjutnya saya ketahui adalah justru para peserta workshop-lah yang request ingin berbelanja di Tanah Abang. Wow, keren ya super-blok Tanah Abang bisa terkenal hingga mancanegara 🙂

Awalnya saya dikabari bahwa hanya 5 orang saja yang akan berbelanja ke Tenabang. “It’s okay. Cuma 5 orang dan semua adalah perempuan, tentu tidak akan sulit”. Namun ternyata jumlahnya membludak hingga kurang lebih 18 orang. *shock* Syukurlah, ada 3 orang lagi yang akan menjadi pemandu berbelanja. Saya dan Fitri menemani grup bapak-bapak. Bu Rini menemani grup para ibu. Sementara Cahya juga memandu grup para bapak. Ada juga beberapa orang yang memilih untuk berpisah dan berbelanja tanpa kami dampingi.

Pembagian grup sudah selesai. Yeay, it’s time to shop. Let’s hunt 🙂

Nah, kebetulan para bapak di grup yang saya dan Fitri dampingi ingin mencari baju batik. Langsung-lah kami menuju lantai 2 Blok A. Karena jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, notabene banyak toko yang mulai bersiap untuk tutup. Pada awalnya mereka cukup bingung dengan beragam motif baju batik. Jangankan para bule, saya sendiri saja juga sering kebingungan memilih ketika berbelanja baju batik. Setelah mencari ke beberapa toko, akhirnya mereka mendapatkan baju batik yang sesuai dengan keinginan 🙂 Harganya juga terjangkau kok, 130 ribu Rupiah untuk 1 potong.  Apakah ada acara bargain alias tawar-menawar? Absolutely yes, hehe. Sepertinya sudah kodrat perempuan ya, rasanya kurang afdhol kalau berbelanja tanpa kegiatan tawar-menawar 😀

20151127_154608.jpg

Ada yang mencari mainan anak, sepatu, kain sari India, alat tulis, bahkan kopi khas Indonesia dan kacang Bali. Unfortunately, tidak semua bisa terpenuhi. Semoga di lain kesempatan mereka bisa mengunjungi Indonesia dan kembali berbelanja di sini.

Oiya, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya membantu para bule untuk menawar harga. Bukankah seharusnya mereka dibiarkan saja membeli dengan harga mahal? Toh keuntungannya untuk warga Indonesia. Ketika dihadapkan dengan pertanyaan ini, saya hanya bisa menjawab dengan pertanyaan. Bagaimana jika kamu ada di posisi mereka? Berada di negeri orang dan ingin membeli oleh-oleh khas negara tersebut. Tentu saja kamu juga ingin mendapatkan barang itu dengan harga yang wajar kan. Kamu-kamu pasti tahu kalau sebagian para pedagang di indonesia senang menaikkan harga hingga 3-4 kali lipat.

Hal yang terlupakan oleh saya adalah menawarkan batu akik. Duh, harusnya saya bawakan berbagai jenis batu akik ya, menularkan virus gemstone ke ranah internasional, hehe.

Akhir kata, mari berbelanja 🙂

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2015 in atashi,,

 

Tags: , , , ,

25. Buya dan Abuya

Selain pemilihan nama untuk si dedek bayi, kamipun berdiskusi tentang sebutan apa yang cocok untuk saya dan mas. Kita mengenal sebutan ayah – ibu atau papa – mama. Beberapa tahun terakhir booming penyebutan ayah – bunda serta abi – umi. Seorang teman ada yang menggunakan istilah ipi – imi, yang konon katanya terinspirasi oleh istilah pipi – mimi milik Anang & KD. Kalau ingin mengajarkan bahasa inggris pada anakmu sejak dini, kamu bisa menggunakan sebutan dad – mom 🙂

Setelah diskusi panjang, akhirnya kami memutuskan panggilan buya – bunda. Buya? Ketika mendengar kata “buya”, apa yang terlintas dalam pikiran teman-teman? Kakek-kakek, ulama, atau bahkan Buya Hamka? Untuk menjawab rasa penasaran kalian, berikut saya copy paste-kan tulisan mas terkait pengertian “buya”.

Makna kata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Buya merupakan serapan dari bahasa Arab yang memiliki dua makna dasar, yang pertama berarti Bapak dan yang kedua berarti ulama atau kyai.

Sedangkan kalau ditilik dari bahasa Arabnya, kata Buya atau Abuya sebenarnya bukan berasal dari bahasa Fusha melainkan bahasa Darojah atau bahasa pergaulan sehari-hari.

Dalam bahasa Arab, kata dasar dari panggilan Bapak adalah “A – Bun” yang secara gramatikal apabila bertemu dengan “ya mutakallim” maka huruf akhir dari kalimat tersebut harus dibaca “kasroh”, sehingga apabila “A-Bun” bertemu “Ya Mutakallim” seharusnya dibaca menjadi “Abii” yang berarti Bapak saya. Karena salah satu fungsi dari “Ya Mutakallim” yang disandarkan pada kalimat isim adalah menunjukkan kepemilikan tunggal (dalam hal ini Bapak punya saya).

-(mencoba kembali membongkar catatan-catatan Bahasa Arab Ma’had Al-Manar)-

Sama dengan “Abii” yang berarti Bapak saya, kata “Abuya”, sebenarnya berasal dari “A-bun” yang bertemu “Ya Mutakallim”, namun bunyi “Abun” dan “Ya” dibaca dengan tanpa mengikuti kaidah nahwiyah. Panggilan ini kemudian masuk ke Indonesia, dimana ada yang mempersingkatnya menjadi “Buya” dan ada yang tetap aslinya “Abuya”.

Penggunaan

Di Indonesia, bahasa Abuya dan Buya ini menjadi kata serapan, tapi seakan-akan yang berhak dipanggil Abuya dan Buya adalah kyai atau ulama besar, padahal tidak demikian. Walaupun panggilan Buya ini sangat lekat dengan sosok ulama besar asal Sumatera Barat, yakni Alm. Buya Hamka. Namun di Sumatera Barat sendiri, guru-guru mengaji di surau-surau kecil pun biasa dipanggil dengan sebutan Buya. Selain itu di keluarga istri, panggilan Buya sebagai sapaan kekeluargaan yang berarti “Bapak” terakhir kali digunakan oleh Nenek istri saya kepada Ayahandanya.

Perlu diketahui juga, jika panggilan Buya ternyata tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang Sumatera Barat saja.

Di Kulon (Banten-red) misalnya, di tanah asal Ayah saya ini, pernah hidup seorang ulama besar yang terkenal dengan kezuhudannya, setelah menolak bantuan miliaran rupiah dari keluarga cendana. Beliau adalah alm. Abuya Dimyati, atau KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni. Konon alm. Gus Dur sendiri pernah menunggu berjam-jam hanya untuk bertemu muka dengan Beliau ini.

Selain itu, di Cirebon, tempat yang saya akui menjadi kampung halaman. Saat ini masih hidup seorang ulama ahlus sunnah lainnya, yakni KH. Yahya Zainul Maarif atau yang sering dipanggil sebagai Buya Yahya.

Jadilah panggilan Buya ini menjadi milik Bapak-bapak seluruh Nusantara…

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in atashi

 

Tags: , , , , , ,