RSS

Monthly Archives: August 2015

23. Finally, It’s You :)

Hai semua.

Lama tidak menengok blog ini, lebih dari 3 tahun. Woow. Pastinya dalam waktu 3 tahun itu sudah banyak kejadian yang terjadi. Setelah vakum lama, postingan saya kali ini adalah tentang pertemuan jodoh. Yup, urusan yang satu ini merupakan hal misterius selain hidup, mati, dan rezeki. Dan tentu saja selalu menarik untuk membahasnya 🙂

Sewaktu kuliah, saya berkeinginan untuk segera menikah. Inginnya sih mengikuti jejak mama yang menikah di usia 20-an. Jadi dulu tuh ya, sudah berangan-angan ingin menikah di usia 24 tahun. Lulus kuliah, lalu selang 2 tahun kemudian menikah. Manusia hanya bisa bermimpi dan membuat harapan. Sementara ALLOH-lah Sang Penentu jalan kehidupan. Waktu berselang tetapi lelaki yang dinanti tak kunjung tiba. Usaha? Tidak perlu ditanya lagi. Selain berdo’a, juga meminta dicarikan calon suami ke saudara-saudara hingga teman kantor. Saya merupakan tipe gadis pemalu [cieee…], jadi tidak ada dalam pikiran untuk mengajak ta’aruf terlebih dahulu. Usia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Lelaki yang diperkenalkan kepada saya pun silih berganti. Dari beberapa lelaki itu tidakkah ada yang cocok? Sayangnya, belum ada rasa klik di hati ini. Sayapun telah menyiapkan diri untuk menerima berbagai kekurangan si lelaki yang nantinya berjodoh dengan saya, meskipun ia tidak sesuai dengan kriteria pria idaman yang saya impikan. Toh manusia tidak ada yang sempurna. Ternyata skenario ALLOH berkehendak lain. ALLOH menjauhkan lelaki-lelaki tersebut [Alhamdulillah…]. Pernah pula terlintas pikiran ekstrem, jika tidak dipertemukan di dunia, mungkin saya akan dipertemukan dengan jodoh saya di akhirat. Sampai segitunya yah? Well, yeah it’s true  😀

PROSES ITU BERNAMA TA’ARUF

Saya percaya bahwa cara terbaik pasti akan memberikan hasil yang terbaik juga. Sebisa mungkin saya menghindari yang namanya pacaran. Kamu-kamu bisa menyebut saya kolot atau kuper, tapi saya bangga tidak pernah berpacaran. Cinta sejati selayaknya diberikan kepada lelaki yang telah sah menjadi suami. Tidak untuk diobral kepada pacar yang belum tentu akan menjadi suami. Hal penting dalam ta’aruf adalah adanya orang terpercaya yang bisa menjamin kalau calon yang dikenalkan merupakan orang yang baik. Jadi ta’aruf bukan hanya asal berkenalan dan bertukar biodata/CV lalu lanjut menikah. Tidak, tidak seperti itu. Ada bentuk kehati-hatian diri dan rasa kepasrahan kepada ALLOH selama proses ta’aruf. Sebagai bentuk kehati-hatian diri, selain bertukar biodata lengkap [ini harus detail dan jujur lhoh yaa], sebisa mungkin di tahap awal ini kita juga menggali segala informasi tentang lelaki/wanita tersebut. Bisa dari media sosial [saya sampai stalking-in akun FB si mas, hehe], teman kantornya, bahkan bertanya pada saudara-saudaranya. Kalau perlu, datangi kantor tempat ia bekerja untuk memastikan apakah ia benar-benar karyawan di kantor tersebut. Kemudian sebagai bentuk kepasrahan diri kepada ALLOH, kita senantiasa berdo’a [kalau perlu perbanyak sholat tahajjud] agar diberikan petunjuk apakah si dia merupakan jodoh terbaik. Kalau kamu bertanya, petunjuk seperti apa yang saya dapatkan? Berupa mimpikah? Saya sih tidak ada mimpi apa-apa, hehe. Kemudahan di setiap langkah yang kami lalui menuju pernikahan saya anggap sebagai petunjuk dari ALLOH.

DARI CV TURUN KE HATI

Awal bulan Ramadhan tahun 2012 teman kantor menawarkan untuk mengenalkan teman suaminya kepada saya. Proses diawali dengan sang lelaki mengirimkan biodata lengkapnya kepada saya, tak lupa di-cc-kan juga ke teman saya itu selaku mediator. Yup, perlu ada pihak ketiga dalam proses ta’aruf. Panik? Iya, panik banget. Apalagi biodata yang dia berikan sangat detail hingga 15 halaman, disertai testimoni teman-teman dekatnya. Saya yang jadi kebingungan harus menulis apa saja. Setelah saling berkirim CV, kami diberi waktu untuk mempertimbangkan apakah proses akan dilanjutkan dengan pertemuan langsung. Singkat cerita, disepakati setelah lebaran kami akan bertemu untuk saling melihat penampilan fisik dan juga bertanya berbagai hal yang ingin ditanyakan. Oh iya, hingga tahap ini sang mediator masih setia menemani kami. Pertemuan langsung harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bertanya terhadap sang calon. Pertanyaannya bebas, mulai dari visi misi pernikahan hingga pendapat terhadap wanita yang bekerja. Ingin bertanya hobi, hal yang tidak disukai, kebiasaan buruk, atau bahkan politik negara pun boleh. Lagi-lagi saya terserang sindrom panik. Alhasil saya justru lebih banyak mengobrol dengan si mediator  😀

Setelah pertemuan yang menegangkan itu, kami diberi waktu untuk berpikir dan menyampaikan hasil pertemuan ke keluarga masing-masing. Jika masing-masing pihak setuju, maka proses akan berlanjut dengan sang lelaki datang berkunjung ke rumah saya. Tak disangka, lelaki tersebut kemudian datang ke rumah seorang diri, menyampaikan maksud kedatangannya untuk meng-khitbah saya. Dag-dig-dug dor!

Sungguh proses yang cepat dan mudah. Alhamdulillah 🙂

Yang ingin saya bagi pada kamu-kamu semua adalah jangan pernah berputus asa. Senantiasa berdo’a dan meminta kepada ALLOH agar segera dipertemukan dengan jodoh terbaik. Dan selama masa penantian itu isilah dengan cara memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu isi waktu luang dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya dengan mengikuti berbagai kajian islami. Selain itu tidak perlu malu untuk meminta dicarikan calon pendamping pada saudara atau teman.

Menunggu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan. Terlebih jika dalam masa menanti itu kita selalu direcoki dengan pertanyaan “kapan?”. Namun, yakinlah ALLOH pasti punya skenario terbaik untuk kamu 🙂

 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2015 in atashi, Indahnya Islam

 

Tags: , ,