RSS

29. Dinda

Dinda…

Sungguh aku tak pernah bisa mengira,

Akan ada suatu titik dimana kisah ini berasal-bermula.

Ketika dua hati saling bersinggungan,

Meski tak pernah didahului saling perkenalan.

 

Lantas segalanya mengalir seperti air,

Menemukan jalannya dari hulu menuju ke hilir.

Lewat kata yang merangkai titik dan koma,

Lantas membentuk alur nan memesona.

 

Ah Dinda…

Sungguh tak ada yang mengerti tentang jalan yang menjejak di hadapan,

Kita seperti tengah menyibak tirai misteri yang Tuhan ciptakan.

Agar kita berlari atau bersinggah sejenak,

Mengatur nafas lantas kembali bergegas beranjak.

 

Berkejaran dengan waktu yang memangsa jarak antara kita,

Sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa…

 

Ketika sepasang insan yang kepaknya tak pernah beriringan,

Telah menemukan tambatan jiwa yang mengisi setiap kekosongan.

Ketika yang separuh akan tergenapkan,

Dan tulang rusuk yang hilang telah ditemukan.

 

Meski mulanya ada gundah yang membuncah.

Ada pula ragu yang menyaru.

Lalu menjelma ia menjadi rindu yang mengharu.

 

Maka berserahlah hati ini pada Penggenggamnya.

Agar sirna segala prasangka.

Agar musnah segala gundah.

Hingga berpasrah pada kehendak-Nya.

 

Dinda…

Betapa akan selalu ada hal yang memesonakan dalam kehidupan,

Namun acapkali ia tak dapat dijelaskan dengan penalaran.

Maka biarkan saja ia menyisakan sebuah kenangan manis di hatimu,

Termasuk ketika kita membincangkan pertemuan dua hati, kau dan aku…

 

Ketika kata-kata sudah kehilangan maknanya,

Kita pun hanya mampu menyisakan sebuah tanya…

“Mengapa sepasang mata yang tak pernah bersua, bisa saling jatuh dan mencinta?”

Aku menatap matamu, mencoba menyusuri setiap jejak yang menunjukkan jawabannya.

 

Ah, masih ingatkah kau Dinda?

Pada suatu pagi yang tak pernah bisa ku lupa…

Saat pertama kita berjumpa, lalu kita hanya bisa terdiam kehilangan kata

Dalam dimensi sunyi kita hanya mampu tersipu menggumamkan rasa.

Sungguh tidak ada yang kebutulan di sisi Alloh”, begitu kataku dulu…

 

Bahkan jatuhnya rinai hujan hingga gugurnya dedaunan,

Tumbuhnya kecambah dan hembusan angin dari sesudut lautan.

Semuanya telah tercatat dan terperhitungkan.

 

Apatah lagi risalah dua hati,

Ia hanya bisa dimengerti oleh bahasa batin yang bernama ketentraman,

Ia hanya bisa diuraikan oleh jiwa yang telah terpasang-pasangkan.

 

Jiwa yang telah dipasangkan oleh Tuhannya dengan cara seksama,

Tanpa sempat kita tahu detail ceritanya.

Bisa jadi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,

Layaknya proklamsi republik ini katanya.

Atau dalam rupa perlahan-lahan seperti benih yang berkecambah di hamparan dunia.

 

Ah Dinda…

Aku seolah terlupa

Bukankah cinta tak sekedar memandang wajah, tapi ia juga menjenguk hati?

Bukankah cinta tak sekedar menggenggam tangan, tapi ia juga merengkuh jiwa?

Bukankah cinta tak sekedar mengagumi kelebihan, tapi ia juga membersamai setiap kekurangan?

 

Lalu kau pun tersenyum, mengulum ketersipuan dalam hatimu.

Dan aku pun hanya bisa merona,

Karena ku tahu, itulah jawaban cintamu yang paling sederhana.

 

Maka ketika sepasang tangan mulai bergenggam atas nama Tuhan,

Dalam sebuah akad yang akan menggetarkan arsy Yang Agung.

 

Disaat itulah kau izinkan aku tuk melabuhkan hati ini di tepian pantai cintamu.

Dan ketika itulah kau pilihkan bahuku untuk tempat bersandar letihmu.

Lantas kau akan mulai berceloteh tentang segala mimpi dan citamu.

Dan aku akan selalu berusaha untuk menjadi pendengar setiamu.

 

Dinda…

Maka dalam setiap mimpi dan cita

Akan ada sebuah janji yang menuntut pembuktiannya

Dalam kelindan ribuan kompromi, kita pun akan tiba pada satu masa yang niscaya

 

Tatkala kita harus memilih dan berlari.

Ingin berbalik arah, lantas menjadi seorang pemimpi.

Ataukah kita memilih jalan menempuh pergi.

Lalu menunaikan amanah yang tak pernah mau dipikul langit dan bumi.

 

Maka, untuk seribu langkah yang akan tertempuh lalu

Untuk setiap takdir yang akan menggurat tergaris

Dan untuk sejuta warna hidup yang melukis cerita penuh berharap

Aku kan selalu membutuhkan hadirmu di sisiku, Dindaku…

 

Dalam rupa do’a yang kan kau panjatkan hingga ke atas arasy Yang Agung

Dalam wujud dukungan cintamu yang elok dan menentramkan

Bahkan dalam bahasa tegur dan nasihat yang kukuh menghujam

Aku akan slalu merindukannya dan menyalinnya dalam lembaran-lembaran hatiku…

 

Jakarta,  4 Januari 2013

Di tengah taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu

(Raudhoh al-muhibbin wa nudzhoh al musytaqiin)

=====

Kelanjutan posting sebelumnya, inilah puisi karya si mas yang kami niatkan untuk dilampirkan di undangan pernikahan. Namun apa daya niatan itu batal, panjang banget euy😀

Note:

Harap cantumkan link blog ini ketika kamu menggunakan keseluruhan puisi atau sebagian puisi tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2016 in atashi,,, pernikahan, Romantis

 

Tags: , , , ,

28. Today is the Day

Postingan sebelumnya sudah membahas proses ta’aruf dan puisi cinta. Tak lengkap rasanya jika tidak menuliskan rangkaian menuju hari H – the wedding itself. Meskipun sudah berselang 3 tahun, tapi gapapa ya, hehehe.

MENENTUKAN TANGGAL PERNIKAHAN

Semua hari dan tanggal adalah baik. Dalam Islam tak ada tuntunan harus menikah di hari tertentu atau di bulan tertentu. Maka, sah-sah saja jika ada yang menikah di bulan Ramadhan. Kamu semua tidak perlu repot menghitung weton dan sejenisnya. Percayalah, langgeng tidaknya suatu pernikahan bukan ditentukan dari tanggal pernikahan, tetapi dari sikap kita dalam menjalani pernikahan. Kalau menurut saya, tanggal pernikahan yang baik adalah di hari libur dan pada awal bulan, hehe.

MENCARI LOKASI (VENUE)

Karena kami hanya punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkan pernikahan, jadi urusan mencari lokasi yang pas untuk akad nikah dan resepsi merupakan keribetan tersendiri. Keliling ibukota, mulai dari lokasi dekat rumah hingga ke Taman Mini, sangatlah menyita waktu. Kenapa tidak mengadakan acara di rumah saja? Mengadakan acara di rumah memang dari awal kami coret dari list venue. Pertimbangannya sih biar tidak terlalu merepotkan pihak keluarga. Kebayang kan bagaimana repotnya mendekor rumah, masak-memasak, hingga bersih-bersih setelah acara selesai. Belum lagi masalah parkiran kendaraan dan kebisingan yang akan mengganggu tetangga sekitar. Duuh, nggak pengen ribet deh. Akhirnya pilihan jatuh pada gedung Cawang Kencana untuk acara resepsi. Sedangkan utuk akad nikah dilaksanakan di masjid terdekat yakni Masjid ASABRI. Overall puas dengan ballroom Cawang Kencana. Ruangannya luas dan full karpet [monggo high heels-nya dipakai, tidak perlu khawatir kepleset lantai licin]😀

MEMILIH KATERING & PERIAS

Setiap mengunjungi gedung untuk mencari tempat resepsi, pasti saya mengambil brosur katering yang bekerja sama dengan gedung tersebut. Setelah cek dan banding ini-itu, telepon sana-sini, dan icip-icip makanannya, akhirnya pilihan jatuh pada Daffa Catering. Makanannya lumayan enak dan porsi yang disediakan cukup banyak, sehingga di hari H para tamu tidak kekurangan makanan. Untuk rias pengantin, pilihannya adalah Komala Hadi. Suka banget dengan hasil riasan mba Yayang – si empunya Komala Hadi. Simple, minimalis alias ga menor, dan cantik. Syar’i-nya teteup dong harus dijaga. Maksudnya jilbab menutup dada, baju tidak ketat, tidak cukur alis dan tidak pakai bulu mata palsu. Silahkan man-teman browsing dalil-dalil terkait haramnya mencukur alis dan pemakaian bulu mata palsu. Pemilihan katering dan perias sudah disesuaikan dengan budget. Pertimbangan kami, kalau perbedaannya tidak signifikan ya pilih saja yang lebih murah. Toh cuma untuk acara 1 hari saja. Lebih baik uangnya dipakai untuk membeli perabot rumah🙂

MENCETAK UNDANGAN

Alhamdulillah urusan cetak-mencetak undangan telah di-handle oleh Uncu [artinya paman dalam bahasa Minang]. Selain undangan yang dicetak, si mas juga membuat undangan via web. Saya lupa alamat web-nya. Web gratis koq, hehe. Ada cerita tersendiri dalam urusan membuat undangan ini. Si mas kan jago membuat puisi, jadi saya meminta dia untuk membuatkan puisi yang nantinya akan dicantumkan di undangan kami. Ternyataa, puisi yang dibuat sangat panjang, kalau dilampirkan di undangan tentu menghabiskan banyak kertas. Karena niatnya ingin irit maka puisi tersebut tidak jadi di-publish di undangan. Namun akan saya tampilkan di blog ini.

MENCARI SOUVENIR

Ada beberapa pusat berbelanja souvenir pernikahan di Jakarta, antaranya Jatinegara dan Asemka. Saya kurang tahu perbandingan harga antara kedua tempat tersebut. Menurut saya sih tidak terlalu berbeda jauh. Jenis souvenir yang tersedia sangatlah banyak. Silahkan kamu datangi beberapa toko untuk melihat keberagamannya. Prinsip pemilihan souvenir adalah sesuaikan dengan budget pernikahan. Selain itu asas manfaat juga jadi pertimbangan. Sangat sayang kan kalau souvenir yang kita berikan kepada tamu undangan menjadi sia-sia tak terpakai.

Tebet-20130120-00882.jpg

Alhamdulillah rangkaian acara pernikahan, mulai dari akad nikah hingga resepsi pernikahan berjalan lancar. Untuk kamu yang sedang menyiapkan acara pernikahan, semoga semuanya lancar jaya ya. Dan semoga pernikahan kalian senantiasa penuh keberkahan dari ALLOH🙂

 
Leave a comment

Posted by on May 25, 2016 in atashi,,, pernikahan

 

Tags: , , , , ,

27. Sang Maha Cinta

Anakku

Hari ini ayah bundamu

menangis bahagia

 

Bahagia

melihatmu sudah beranjak dewasa

 

Bahagia

melihatmu sudah siap berumah tangga

 

Bahagia

melihatmu telah menemukan

tambatan hati

yang bersamanya

engkau akan mengarungi

luasnya samudera kehidupan

dimana kalian akan mengguratkan

tapak-tapak sejarah yang tiada terlupakan

 

Anakku,

hari ini ayah bundamu melepaskanmu

dengan tangis dan tawa

sebagai orang tua

yang kehilangan buah hatinya

sekaligus menemukan jati diri anaknya

 

Bahwa

engkau bukanlah milik kami

karena kami ini tak lebih

hanya hamba yang mendapatkan amanah

dari Sang Maha Memiliki

 

Untuk sekedar menyiapkanmu

mengarungi jalan hidupmu sendiri

 

Sebuah bentangan jalan hidup

yang sangat berbeda

dengan yang telah kami lalui

 

Hidupmu adalah milikmu

hidupmu adalah milik anak-cucumu

hidupmu adalah milik orang-orang yang membutuhkanmu

di zamanmu

 

Bukan milik ayah bundamu

meskipun kamilah penyebab kelahiranmu

 

Bukan milik ayah bundamu

meskipun kamilah yang mendidikmu

 

Bukan milik ayah bundamu

meskipun kami sungguh mencintaimu

dengan sepenuh rindu

 

Sayangku,

hari ini ayah bundamu berlapang dada

melihatmu dalam kain kebaya

yang menandai perjalanan

hidup barumu yang penuh cinta

 

Meskipun

cinta tidak selalu bermakna tertawa

karena cinta juga bisa berwujud tangis

antara bahagia dan derita

antara suka dan duka

antara kegagalan dan kesuksesan

antara kesempitan dan kelapangan

 

Tak apa

biarlah kehidupan menampakkan

dirinya dengan seribu wajah

tetapi ia tidak akan pernah bisa berdusta

kepada orang-orang yang menyapanya

dengan penuh rasa cinta

 

Bahwa kehidupan ini akan menjadi surga

bagi para pengabdi cinta

 

Cinta

akan menjadi kekuatan yang tiada tara

dalam mengarungi ganasnya kehidupan

yang seringkali menjungkirbalikkan

siapa saja yang melaluinya

dengan kebencian

 

Cinta

menjadi layar yang kokoh tiada bandingnya

dalam menjalankan biduk rumah tangga

yang seringkali dihempas gelombang

dan menceraiberaikan

siapa saja yang yang ada di dalamnya

sambil menyelamatkan mereka

yang tak ikut bersalah

 

Cinta

menjadikan seseorang kuat bertahan

dalam beratnya ujian dan cobaan

menjadikan seseorang peka

dan penuh kepedulian

serta menjaganya

dalam indahnya keharmonisan

 

Karena

cinta adalah perwujudan DIA

Sang Maha Cinta

yang selalu bersama mereka

yang menggelorakan sifat-sifat-NYA

yang penuh cinta

 

Anakku,

Sayangku, Cintaku,

hari ini ayah bundamu berpesan

warnailah lembaran hidupmu dengan cinta

iringi langkahmu dengan cinta

alirilah pembuluh darahmu dengan cinta

hiruplah nafasmu sepenuh cinta

dampingi suamimu dalam cinta

belailah anak-anakmu

dan seluruh generasi sesudahnya

dengan cinta

 

Karena itu berarti

engkau telah menghadirkan

Sang Maha Cinta

ke dalam seluruh geletar jiwamu

dan kehidupanmu

DIA akan memberkatimu

dengan segala rahmat-NYA

yang penuh cinta

 

Dengan menyebut nama-NYA

Dzat Yang Menguasai dan menjadi Sumber Segala Cinta

 

Hari ini

ayah bundamu berdoa

semoga hidupmu akan terus

mengalirkan rasa cinta

untuk suamimu, anak-anakmu, cucu-cucumu

dan seluruh generasi sesudahmu

karena dengan cinta itulah

engkau akan menapaki hidup bahagia

di dalam ridho-NYA

dan meleburkan diri dalam harmoni

Dzat Penguasa Jagat Semesta

Sang Maha Cinta

 

Ridho ayah bunda

semoga menjadi ridho Alloh kepadamu

Aamiin yaa mujiibas saailiin

……….

Note:

Saya sangat suka dengan puisi di atas; bahasanya sederhana, tulus, dan menyentuh. Puisi tersebut di-copas dari tulisan Agus Mustofa dengan buku berjudul “Sang Pengantin & Generasi Cinta”. Buku tersebut merupakan hadiah dari Bu Wika (salah satu atasan di tempat saya bekerja).

Buku ini dibagi menjadi tiga (3) bab. Bab pertama berisi berbagai nasihat untuk kawula muda sebelum ke jenjang pernikahan, mulai dari mencari jati diri, menyamakan visi & misi, hingga mengikat janji suci. Bab kedua berisi nasihat dalam membina rumah tangga, seperti berpasangan dalam perbedaan hingga menghindari macetnya komunikasi. Kemudian di bab ketiga, berisi beragam nasihat terkait bagaimana kita menyiapkan generasi penuh cinta, misalnya menyiapkan emosi sang buah hati dan membangun intelektualitas anak.

Hal yang saya sangat suka dari buku-buku karangan Agus Mustofa adalah kita diajak untuk berfikir dan merenung. Semacam berfilosofi gitu deh. Namun yang membedakan buku-bukunya dengan buku filosofi lain adalah buku Pak Agus ini senantiasa disertai ayat-ayat Al Qur’an. Buku lainnya yang pernah saya baca adalah “Menjadi Haji Tanpa Berhaji”. Ini recommended book banget! Terlebih untuk man-teman semua yang akan melaksanakan umroh atau haji. Buku tersebut bercerita berbagai makna dari rangkaian kegiatan haji, seperti makna tawaf mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i, hingga makna wukuf di Arafah. Dijamin ibadah umroh dan hajinya lebih khusyuk setelah baca buku tersebut🙂

 

 
Leave a comment

Posted by on April 13, 2016 in atashi,,, Indahnya Islam

 

Tags: , , , , ,

26. Shopping Guide

Duilee, pemandu belanja?

Yup, secara tak sengaja saya dan teman satu ruangan dimintai tolong untuk menemani para peserta workshop berbelanja. Workshop yang diselenggarakan oleh ADB (Asian Development Bank) di Jakarta ini membahas Supply and Use Table (SUT). Pesertanya berasal dari berbagai negara di Asia, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, India, Srilanka, dan tentunya Indonesia.

Belum terbayang bagaimana saya akan memandu para bule ini berbelanja. Pastinya saya harus menerjemahkan bahasa si pedagang dan para bule. Hal unik yang selanjutnya saya ketahui adalah justru para peserta workshop-lah yang request ingin berbelanja di Tanah Abang. Wow, keren ya super-blok Tanah Abang bisa terkenal hingga mancanegara🙂

Awalnya saya dikabari bahwa hanya 5 orang saja yang akan berbelanja ke Tenabang. “It’s okay. Cuma 5 orang dan semua adalah perempuan, tentu tidak akan sulit”. Namun ternyata jumlahnya membludak hingga kurang lebih 18 orang. *shock* Syukurlah, ada 3 orang lagi yang akan menjadi pemandu berbelanja. Saya dan Fitri menemani grup bapak-bapak. Bu Rini menemani grup para ibu. Sementara Cahya juga memandu grup para bapak. Ada juga beberapa orang yang memilih untuk berpisah dan berbelanja tanpa kami dampingi.

Pembagian grup sudah selesai. Yeay, it’s time to shop. Let’s hunt🙂

Nah, kebetulan para bapak di grup yang saya dan Fitri dampingi ingin mencari baju batik. Langsung-lah kami menuju lantai 2 Blok A. Karena jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, notabene banyak toko yang mulai bersiap untuk tutup. Pada awalnya mereka cukup bingung dengan beragam motif baju batik. Jangankan para bule, saya sendiri saja juga sering kebingungan memilih ketika berbelanja baju batik. Setelah mencari ke beberapa toko, akhirnya mereka mendapatkan baju batik yang sesuai dengan keinginan🙂 Harganya juga terjangkau kok, 130 ribu Rupiah untuk 1 potong.  Apakah ada acara bargain alias tawar-menawar? Absolutely yes, hehe. Sepertinya sudah kodrat perempuan ya, rasanya kurang afdhol kalau berbelanja tanpa kegiatan tawar-menawar😀

20151127_154608.jpg

Ada yang mencari mainan anak, sepatu, kain sari India, alat tulis, bahkan kopi khas Indonesia dan kacang Bali. Unfortunately, tidak semua bisa terpenuhi. Semoga di lain kesempatan mereka bisa mengunjungi Indonesia dan kembali berbelanja di sini.

Oiya, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya membantu para bule untuk menawar harga. Bukankah seharusnya mereka dibiarkan saja membeli dengan harga mahal? Toh keuntungannya untuk warga Indonesia. Ketika dihadapkan dengan pertanyaan ini, saya hanya bisa menjawab dengan pertanyaan. Bagaimana jika kamu ada di posisi mereka? Berada di negeri orang dan ingin membeli oleh-oleh khas negara tersebut. Tentu saja kamu juga ingin mendapatkan barang itu dengan harga yang wajar kan. Kamu-kamu pasti tahu kalau sebagian para pedagang di indonesia senang menaikkan harga hingga 3-4 kali lipat.

Hal yang terlupakan oleh saya adalah menawarkan batu akik. Duh, harusnya saya bawakan berbagai jenis batu akik ya, menularkan virus gemstone ke ranah internasional, hehe.

Akhir kata, mari berbelanja🙂

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2015 in atashi,,

 

Tags: , , , ,

25. Buya dan Abuya

Selain pemilihan nama untuk si dedek bayi, kamipun berdiskusi tentang sebutan apa yang cocok untuk saya dan mas. Kita mengenal sebutan ayah – ibu atau papa – mama. Beberapa tahun terakhir booming penyebutan ayah – bunda serta abi – umi. Seorang teman ada yang menggunakan istilah ipi – imi, yang konon katanya terinspirasi oleh istilah pipi – mimi milik Anang & KD. Kalau ingin mengajarkan bahasa inggris pada anakmu sejak dini, kamu bisa menggunakan sebutan dad – mom🙂

Setelah diskusi panjang, akhirnya kami memutuskan panggilan buya – bunda. Buya? Ketika mendengar kata “buya”, apa yang terlintas dalam pikiran teman-teman? Kakek-kakek, ulama, atau bahkan Buya Hamka? Untuk menjawab rasa penasaran kalian, berikut saya copy paste-kan tulisan mas terkait pengertian “buya”.

Makna kata

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Buya merupakan serapan dari bahasa Arab yang memiliki dua makna dasar, yang pertama berarti Bapak dan yang kedua berarti ulama atau kyai.

Sedangkan kalau ditilik dari bahasa Arabnya, kata Buya atau Abuya sebenarnya bukan berasal dari bahasa Fusha melainkan bahasa Darojah atau bahasa pergaulan sehari-hari.

Dalam bahasa Arab, kata dasar dari panggilan Bapak adalah “A – Bun” yang secara gramatikal apabila bertemu dengan “ya mutakallim” maka huruf akhir dari kalimat tersebut harus dibaca “kasroh”, sehingga apabila “A-Bun” bertemu “Ya Mutakallim” seharusnya dibaca menjadi “Abii” yang berarti Bapak saya. Karena salah satu fungsi dari “Ya Mutakallim” yang disandarkan pada kalimat isim adalah menunjukkan kepemilikan tunggal (dalam hal ini Bapak punya saya).

-(mencoba kembali membongkar catatan-catatan Bahasa Arab Ma’had Al-Manar)-

Sama dengan “Abii” yang berarti Bapak saya, kata “Abuya”, sebenarnya berasal dari “A-bun” yang bertemu “Ya Mutakallim”, namun bunyi “Abun” dan “Ya” dibaca dengan tanpa mengikuti kaidah nahwiyah. Panggilan ini kemudian masuk ke Indonesia, dimana ada yang mempersingkatnya menjadi “Buya” dan ada yang tetap aslinya “Abuya”.

Penggunaan

Di Indonesia, bahasa Abuya dan Buya ini menjadi kata serapan, tapi seakan-akan yang berhak dipanggil Abuya dan Buya adalah kyai atau ulama besar, padahal tidak demikian. Walaupun panggilan Buya ini sangat lekat dengan sosok ulama besar asal Sumatera Barat, yakni Alm. Buya Hamka. Namun di Sumatera Barat sendiri, guru-guru mengaji di surau-surau kecil pun biasa dipanggil dengan sebutan Buya. Selain itu di keluarga istri, panggilan Buya sebagai sapaan kekeluargaan yang berarti “Bapak” terakhir kali digunakan oleh Nenek istri saya kepada Ayahandanya.

Perlu diketahui juga, jika panggilan Buya ternyata tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang Sumatera Barat saja.

Di Kulon (Banten-red) misalnya, di tanah asal Ayah saya ini, pernah hidup seorang ulama besar yang terkenal dengan kezuhudannya, setelah menolak bantuan miliaran rupiah dari keluarga cendana. Beliau adalah alm. Abuya Dimyati, atau KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni. Konon alm. Gus Dur sendiri pernah menunggu berjam-jam hanya untuk bertemu muka dengan Beliau ini.

Selain itu, di Cirebon, tempat yang saya akui menjadi kampung halaman. Saat ini masih hidup seorang ulama ahlus sunnah lainnya, yakni KH. Yahya Zainul Maarif atau yang sering dipanggil sebagai Buya Yahya.

Jadilah panggilan Buya ini menjadi milik Bapak-bapak seluruh Nusantara…

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in atashi

 

Tags: , , , , , ,

24. Pintu Rahasia

Ada sebuah pintu kecil di hati ini, yang saat pintu kecil itu dibuka, ada banjir besar yang masuk melalui pintu itu.

Membawa suatu hadiah yang mewakili semua keindahan yang ada di bumi dan di langit.

Pintu itu adalah ikhlas, dan kuncinya kepasrahan serta tawakkal pada NYA.

(mas PRF, Oktober 2012)

Tulisan di atas saya copas dari status seseorang yang tidak menyadari status-status Facebook-nya senantiasa saya kepoin😀

 
Leave a comment

Posted by on September 14, 2015 in atashi

 

Tags: ,

23. Finally, It’s You :)

Hai semua.

Lama tidak menengok blog ini, lebih dari 3 tahun. Woow. Pastinya dalam waktu 3 tahun itu sudah banyak kejadian yang terjadi. Setelah vakum lama, postingan saya kali ini adalah tentang pertemuan jodoh. Yup, urusan yang satu ini merupakan hal misterius selain hidup, mati, dan rezeki. Dan tentu saja selalu menarik untuk membahasnya🙂

Sewaktu kuliah, saya berkeinginan untuk segera menikah. Inginnya sih mengikuti jejak mama yang menikah di usia 20-an. Jadi dulu tuh ya, sudah berangan-angan ingin menikah di usia 24 tahun. Lulus kuliah, lalu selang 2 tahun kemudian menikah. Manusia hanya bisa bermimpi dan membuat harapan. Sementara ALLOH-lah Sang Penentu jalan kehidupan. Waktu berselang tetapi lelaki yang dinanti tak kunjung tiba. Usaha? Tidak perlu ditanya lagi. Selain berdo’a, juga meminta dicarikan calon suami ke saudara-saudara hingga teman kantor. Saya merupakan tipe gadis pemalu [cieee…], jadi tidak ada dalam pikiran untuk mengajak ta’aruf terlebih dahulu. Usia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Lelaki yang diperkenalkan kepada saya pun silih berganti. Dari beberapa lelaki itu tidakkah ada yang cocok? Sayangnya, belum ada rasa klik di hati ini. Sayapun telah menyiapkan diri untuk menerima berbagai kekurangan si lelaki yang nantinya berjodoh dengan saya, meskipun ia tidak sesuai dengan kriteria pria idaman yang saya impikan. Toh manusia tidak ada yang sempurna. Ternyata skenario ALLOH berkehendak lain. ALLOH menjauhkan lelaki-lelaki tersebut [Alhamdulillah…]. Pernah pula terlintas pikiran ekstrem, jika tidak dipertemukan di dunia, mungkin saya akan dipertemukan dengan jodoh saya di akhirat. Sampai segitunya yah? Well, yeah it’s true 😀

PROSES ITU BERNAMA TA’ARUF

Saya percaya bahwa cara terbaik pasti akan memberikan hasil yang terbaik juga. Sebisa mungkin saya menghindari yang namanya pacaran. Kamu-kamu bisa menyebut saya kolot atau kuper, tapi saya bangga tidak pernah berpacaran. Cinta sejati selayaknya diberikan kepada lelaki yang telah sah menjadi suami. Tidak untuk diobral kepada pacar yang belum tentu akan menjadi suami. Hal penting dalam ta’aruf adalah adanya orang terpercaya yang bisa menjamin kalau calon yang dikenalkan merupakan orang yang baik. Jadi ta’aruf bukan hanya asal berkenalan dan bertukar biodata/CV lalu lanjut menikah. Tidak, tidak seperti itu. Ada bentuk kehati-hatian diri dan rasa kepasrahan kepada ALLOH selama proses ta’aruf. Sebagai bentuk kehati-hatian diri, selain bertukar biodata lengkap [ini harus detail dan jujur lhoh yaa], sebisa mungkin di tahap awal ini kita juga menggali segala informasi tentang lelaki/wanita tersebut. Bisa dari media sosial [saya sampai stalking-in akun FB si mas, hehe], teman kantornya, bahkan bertanya pada saudara-saudaranya. Kalau perlu, datangi kantor tempat ia bekerja untuk memastikan apakah ia benar-benar karyawan di kantor tersebut. Kemudian sebagai bentuk kepasrahan diri kepada ALLOH, kita senantiasa berdo’a [kalau perlu perbanyak sholat tahajjud] agar diberikan petunjuk apakah si dia merupakan jodoh terbaik. Kalau kamu bertanya, petunjuk seperti apa yang saya dapatkan? Berupa mimpikah? Saya sih tidak ada mimpi apa-apa, hehe. Kemudahan di setiap langkah yang kami lalui menuju pernikahan saya anggap sebagai petunjuk dari ALLOH.

DARI CV TURUN KE HATI

Awal bulan Ramadhan tahun 2012 teman kantor menawarkan untuk mengenalkan teman suaminya kepada saya. Proses diawali dengan sang lelaki mengirimkan biodata lengkapnya kepada saya, tak lupa di-cc-kan juga ke teman saya itu selaku mediator. Yup, perlu ada pihak ketiga dalam proses ta’aruf. Panik? Iya, panik banget. Apalagi biodata yang dia berikan sangat detail hingga 15 halaman, disertai testimoni teman-teman dekatnya. Saya yang jadi kebingungan harus menulis apa saja. Setelah saling berkirim CV, kami diberi waktu untuk mempertimbangkan apakah proses akan dilanjutkan dengan pertemuan langsung. Singkat cerita, disepakati setelah lebaran kami akan bertemu untuk saling melihat penampilan fisik dan juga bertanya berbagai hal yang ingin ditanyakan. Oh iya, hingga tahap ini sang mediator masih setia menemani kami. Pertemuan langsung harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk bertanya terhadap sang calon. Pertanyaannya bebas, mulai dari visi misi pernikahan hingga pendapat terhadap wanita yang bekerja. Ingin bertanya hobi, hal yang tidak disukai, kebiasaan buruk, atau bahkan politik negara pun boleh. Lagi-lagi saya terserang sindrom panik. Alhasil saya justru lebih banyak mengobrol dengan si mediator  :D

Setelah pertemuan yang menegangkan itu, kami diberi waktu untuk berpikir dan menyampaikan hasil pertemuan ke keluarga masing-masing. Jika masing-masing pihak setuju, maka proses akan berlanjut dengan sang lelaki datang berkunjung ke rumah saya. Tak disangka, lelaki tersebut kemudian datang ke rumah seorang diri, menyampaikan maksud kedatangannya untuk meng-khitbah saya. Dag-dig-dug dor!

Sungguh proses yang cepat dan mudah. Alhamdulillah🙂

Yang ingin saya bagi pada kamu-kamu semua adalah jangan pernah berputus asa. Senantiasa berdo’a dan meminta kepada ALLOH agar segera dipertemukan dengan jodoh terbaik. Dan selama masa penantian itu isilah dengan cara memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu isi waktu luang dengan berbagai kegiatan positif, salah satunya dengan mengikuti berbagai kajian islami. Selain itu tidak perlu malu untuk meminta dicarikan calon pendamping pada saudara atau teman.

Menunggu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan. Terlebih jika dalam masa menanti itu kita selalu direcoki dengan pertanyaan “kapan?”. Namun, yakinlah ALLOH pasti punya skenario terbaik untuk kamu🙂

 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2015 in atashi, Indahnya Islam

 

Tags: , ,