Seperti malam-malam yang lalu, makan malam hari itu saya lalui bersama mama dengan menonton televisi. Walaupun hanya 1 – 2 jam, tetapi cukup untuk penghilang penat yang diakibatkan pekerjaan. Secara random mama menyetel saluran. Ketika stasiun televisi A sedang menayangkan iklan, maka tombol remote-pun akan ditekan, mengganti ke stasiun televisi B, C hingga Z, mencari acara yang oke untuk ditonton. Rugi kan kalau yang ditonton cuma iklan-iklan atau sinetron-sinetron yang makin hari makin tidak jelas alur ceritanya
Klik tombol ini, klik tombol itu, lihat saluran ini, pindah ke saluran itu, dan secara tak sengaja saluran AN TV yang sedang menayangkan acara DAI MUDA pun menarik minat kami. Tema malam itu adalah bersedekah. Para dai muda membawakan materi yang bertemakan sedekah, tetapi dengan gaya masing-masing. Acara televisi yang menarik sekaligus mendidik!
Satu poin yang sangat menarik bagi saya adalah ucapan mama: “Sedekah tidak hanya dengan uang, tetapi bisa dengan cara berbagi ilmu. Kamu kan langganan majalah tarbawi, gimana kalau isi majalahnya kamu tulis di blog, biar bisa dibaca orang lain”. “wow, what a good idea” pikir saya. Sebelumnya memang pernah terpikir untuk merangkum isi majalah yang telah saya baca kemudian di-share lewat blog. Akan tetapi (lagi-lagi menggunakan alasan klise sibuk dengan pekerjaan) niat tersebut belum sempat terlaksanakan. –> pembelaan diri: bekerja yang halal dengan niat ikhlas karena ALLOH juga dianggap ibadah kan
Selain mengerjakan ibadah-ibadah wajib, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah sunah, salah satunya adalah sedekah.
Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada ALLOH dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia (QS. Al-Hadid: 18).
Begitu banyak ayat dalam al-qur’an yang mengajak kita untuk bersedekah. Selain ayat di atas, beberapa ayat tentang ajuran untuk bersedekah ada di surat Al-Baqarah. Salah satunya surat di bawah ini:
Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan ALLOH seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. ALLOH melipatgandakan bagi siapa yang Dia Kehendaki, dan ALLOH Maha Luas, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261).
Dari surat Al-Baqarah ayat 261 di atas, saya teringat dengan cerita paman mengenai sedekah. Pertengahan tahun 2011 kemarin, uncu (panggilan orang minang untuk adik bungsu dari ayah/ibu) melakukan perjalanan dakwah selama kurang lebih 4 bulan di India dan Pakistan. Ketika tiba di suatu desa, uncu dan temannya ingin membeli tali untuk menggantung pakaian. Kemudian secara tiba-tiba datang orang tak dikenal yang kemudian langsung memberikan tali tambang yang diperlukan. Orang tersebut berkata: “ambillah, saya percaya ALLOH akan menggantinya sepuluh kali lipat”. –> kurang lebih kalimatnya seperti itu, saya lupa persisnya bagaimana, hehe.
Lanjut ya kisah ceritanya. Siang berganti sore, orang tak dikenal itu datang kembali. Lalu ia menceritakan bahwa ALLOH langsung mengganti apa yang ia sedekahkan sebesar sepuluh kali lipat. Tali tambang yang tadi diberikan seharga 10 rupee, lalu ia mendapat uang sebesar 100 rupee hasil dari keuntungan berdagang di siang hari.
Subhanalloh, janji ALLOH memang pasti kebenarannya.
Teman-teman, jika kamu ditanya, harta mana yang lebih kamu sukai, pilihannya adalah: harta diri sendiri atau harta yang akan diwariskan. Apa yang akan kamu pilih? Tentu kita akan memilih lebih menyukai harta milik sendiri. Pertanyaan tersebutpun pernah ditanyakan Rasulullah kepada para sahabat.
Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda: “Siapakah diantara kamu sekalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”. Para sahabat menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun diantara kami kecuali ia lebih mencintai hartanya sendiri”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hartanya sendiri adalah harta yang harus didahulukan dan harta ahli warisnya adalah harta yang harus dikemudiankan” (HR. Bukhari).
Kadang kita masih mencintai harta yang justru nantinya akan kita wariskan kepada ahli waris, ketimbang lebih mencintai harta diri sendiri. “Memang ada bedanya ya? Kan sama-sama harta milik sendiri”. Tentu saja berbeda. Harta yang diwariskan maksudnya adalah harta yang kita peroleh selama hidup di dunia dan nantinya pada saat meninggal harta tersebut akan dibagikan kepada ahli waris. Sedangkan maksud dari harta diri sendiri adalah harta yang akan kita bawa sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya setelah meninggal.
Kita percaya bahwa kehidupan dan kematian seseorang merupakan misteri yang hanya diketahui oleh ALLOH. Kita pun percaya bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan transit menuju kehidupan abadi kelak. Oleh karena itu, yuuk teman-teman, mari perbanyak tabungan akhirat kita. ^__^
Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidak ada iri hati yang diperbolehkan kecuali dalam dua hal, yaitu: seseorang yang diberi kekayaan harta oleh ALLOH kemudian dihabiskannya dalam menegakkan kebenaran, dan seseorang yang diberi ilmu oleh ALLOH kemudian diamalkan dan diajarkannya kepada sesama manusia” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sumber:
- Fiqih Sunah Untuk Wanita oleh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim.
- Terjemahan Riyadlus Shalihin bagian I.